JAKARTA – Relawan Prabowo (Repro) terus berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menggandeng petani dan kontraktor lokal di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Dalam sebuah diskusi di Aula Sebangau Hotel Neo, Selasa (4/3/2025) malam, Repro membahas peran strategis petani dan kontraktor lokal dalam menyukseskan program pemerintah. Ketua DPP Repro, Hotmian Siregar, menegaskan bahwa keterlibatan pihak lokal sangat penting demi keberhasilan program ini.
“Kami ingin memastikan bahwa petani dan kontraktor lokal mendapatkan peluang nyata dalam program ketahanan pangan. Kalimantan Tengah memiliki potensi besar yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujar Hotmian Siregar kepada Rentak.Id, Minggu (9/3/2025).
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Bidang Pertanian DPP Repro, Nasaruddin Budiman, Ketua DPD Repro Kalteng, Waldemas, serta sejumlah anggota dan perwakilan kontraktor. Dalam diskusi ini, Nasaruddin menekankan bahwa konsep ekonomi Pancasila harus menjadi landasan dalam implementasi program pertanian.
“Kami tidak ingin petani dan kontraktor lokal hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian penting dari program ini, bukan sekadar sub-kontraktor. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi mitra pemerintah, dan kami siap mendampingi mereka,” jelas Nasaruddin.
Salah satu kontraktor lokal yang hadir, Agustus, menyampaikan apresiasinya terhadap program yang melibatkan pihak lokal dalam ketahanan pangan. Menurutnya, keterlibatan petani dan kontraktor lokal sangat penting karena merekalah yang memahami kondisi lapangan di Kalteng.
“Saya sangat mengapresiasi langkah Relawan Prabowo ini. Keterlibatan pihak lokal akan meningkatkan efektivitas program karena mereka lebih memahami medan dan tantangan yang ada,” tegas Agustus.
Setelah diskusi, tim Repro melakukan peninjauan ke lahan kosong persawahan di Trans Kalimantan, tepatnya di perbatasan titik Nol Desa Tewang Darayu-Desa Buntut Bali, Katingan. Lahan tersebut direncanakan akan digunakan untuk program ketahanan pangan dengan melibatkan petani serta kontraktor lokal.
Namun, dalam kunjungan tersebut, tim menemukan beberapa kendala infrastruktur yang dapat menghambat pelaksanaan program. Salah satunya adalah kondisi jembatan yang dinilai tidak mampu menahan mobilisasi alat berat yang dibutuhkan untuk pengolahan lahan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki infrastruktur menuju lokasi. Jika aksesnya tidak memadai, tentu akan menghambat keberhasilan program ini,” ujar Agustus.
Program ini selaras dengan visi Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional. Repro berkomitmen untuk terus mendorong pelibatan petani dan kontraktor lokal dalam berbagai inisiatif yang berdampak positif bagi masyarakat dan ekonomi daerah. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













