TANGSEL – Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Andhika Ganendra, menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan anak usia dini menjadi kunci peningkatan kualitas siswa dari keluarga kurang mampu.
Hal itu disampaikannya dalam Dialog Media di Tangerang Selatan, Banten, Senin (2/3/2026), terkait kebijakan bantuan pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurut Andhika, pengalaman bersekolah sejak usia dini terbukti berpengaruh pada perkembangan akademik di jenjang selanjutnya.
“Berdasarkan berbagai penelitian, anak yang sudah mendapatkan pengalaman belajar pada usia golden age, perkembangan akademiknya di SMA cenderung lebih pesat. Kita ingin anak-anak Indonesia mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini penerima bantuan pendidikan masih menunjukkan kesenjangan pada jenjang menengah atas. Di tingkat SD dan SMP, jumlah penerima relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Namun di SMA, jumlah siswa laki-laki penerima bantuan menurun drastis.
“Di SD dan SMP jumlahnya imbang. Tapi ketika masuk SMA, penerima laki-laki tinggal sekitar 20 persen. Sebagian putus sekolah, sebagian beralih ke SMK. Ini menunjukkan program bantuan masih lebih banyak membuka akses, tetapi belum sepenuhnya meningkatkan kualitas pendidikan siswa miskin,” kata Andhika.
Ia menilai salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya partisipasi pendidikan anak usia dini karena biaya taman kanak-kanak yang selama ini dianggap mahal bagi keluarga kurang mampu.
Karena itu pemerintah kini mendorong wajib belajar yang mencakup pendidikan prasekolah serta menyalurkan bantuan pendidikan sejak tingkat TK.
“Sekarang pendidikan TK sudah masuk dalam skema wajib belajar. Walaupun baru pada tahap awal, bantuan pendidikan sudah diberikan sejak TKA. Kami berharap informasi ini bisa disebarkan luas karena masih banyak keluarga miskin yang belum mengetahui bahwa TK sudah gratis dan tersedia bantuannya,” jelasnya.
Andhika menambahkan, perluasan bantuan pendidikan usia dini dilakukan dengan pengalokasian ulang anggaran agar manfaatnya lebih luas.
“Dengan alokasi yang sama, satu penerima di sekolah tertentu bisa setara dengan beberapa penerima di TK. Artinya, kita memanfaatkan anggaran yang ada untuk dampak yang lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan sosialisasi menjelang tahun ajaran baru agar anak dari keluarga miskin dapat segera mengakses pendidikan prasekolah.
“Sosialisasi harus ditingkatkan sebelum pendaftaran tahun ajaran baru. Harapannya, anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa mulai merasakan pendidikan TK sejak awal,” katanya.
Terkait data penerima bantuan, Andhika memastikan pihaknya tetap melakukan verifikasi terhadap calon penerima yang belum tercantum dalam basis data sosial pemerintah.
“Kalau ada data yang belum masuk dalam basis data, tidak langsung kami tolak. Kami lakukan verifikasi. Kalau memang layak menerima bantuan, jangan sampai karena persoalan administrasi anak tersebut tidak bisa sekolah,” tegasnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan kementerian terkait tetap dilakukan untuk memastikan validitas data penerima bantuan pendidikan berjalan lebih akurat.
Penulis : lazir
Editor : ameri






