JAKARTA — Rentetan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia kembali membuka wajah rapuh sistem perlindungan bagi tenaga kesehatan di daerah terdampak. Di tengah tuntutan pelayanan darurat yang terus berjalan, ribuan nakes justru masih harus berjuang dengan persoalan tempat tinggal yang belum pulih sepenuhnya.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menilai kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia menyambut baik langkah Kementerian Kesehatan yang memprioritaskan rehabilitasi rumah tenaga kesehatan (nakes) terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, namun mengingatkan agar kebijakan tersebut benar-benar dieksekusi secara cepat dan tepat.
Menurut politisi PKS itu, pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada perbaikan fasilitas umum semata, sementara para tenaga kesehatan—yang menjadi garda terdepan layanan kemanusiaan—masih hidup dalam ketidakpastian.
“Pemulihan layanan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kondisi para tenaga kesehatannya. Ketika nakes masih tinggal di pengungsian, tentu sulit bagi mereka untuk bekerja secara optimal. Negara tidak boleh menutup mata terhadap situasi ini,” ujar Netty, Selasa (13/1/2026).
Ia menilai keputusan Kemenkes mengawal langsung rehabilitasi 3.265 rumah nakes terdampak bencana merupakan langkah yang patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap nakes selama ini masih belum menjadi prioritas utama dalam skema penanganan bencana.
“Para nakes tetap melayani masyarakat di tengah kondisi darurat, tetapi rumah mereka justru ikut menjadi korban. Ini ironi yang tidak boleh terus berulang setiap kali bencana datang,” tegasnya.
Netty juga menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam proses rehabilitasi agar tidak terhambat persoalan administrasi dan birokrasi. Ia menyambut baik koordinasi antara Kementerian Kesehatan dan BNPB dalam pendataan, verifikasi, dan penyaluran bantuan, namun meminta agar kerja lintas sektor tersebut benar-benar berpihak pada kecepatan dan ketepatan sasaran.
“Jangan sampai bantuan tersendat hanya karena persoalan teknis. Dalam situasi darurat, negara harus hadir secara nyata dan responsif,” katanya.
Menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, Netty berharap percepatan rehabilitasi rumah nakes bisa segera diwujudkan agar para tenaga kesehatan dapat kembali tinggal dengan layak dan bekerja tanpa beban psikologis.
“Ketahanan sistem kesehatan nasional tidak hanya ditentukan oleh gedung dan alat medis, tetapi juga oleh kesejahteraan para tenaga kesehatannya. Jika mereka terus hidup dalam bayang-bayang bencana, maka yang terancam bukan hanya mereka, tetapi juga pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” tandas Netty.
Penulis : lazir
Editor : ameri













