LABUAN BAJO – Bulan puasa tak menjadi penghalang bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, untuk memulai pagi dengan menyapa para guru, kepala sekolah, dan siswa di SMP N 1 Komodo, Labuan Bajo.
Kehadirannya pada Rabu (12/3/2026) disambut hangat dengan prosesi adat oleh Kepala Sekolah Matias Dima dan Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi.
Setelah berkeliling menyaksikan aktivitas pembelajaran, langkah Menteri Mu’ti terhenti di bawah pohon rindang.
Di sana, sekelompok siswa tampak asyik memainkan suling (rekorder) dalam kelas seni terbuka yang dipandu oleh Guru Ismail. Menteri Mu’ti pun tertarik dan bertanya, “Kenapa belajarnya di luar ruangan?”
“Senang, Pak!” sahut para siswa serempak.
Guru Ismail menjelaskan bahwa kelas terbuka dipilih agar tidak mengganggu kelas lain, sekaligus membuat anak-anak lebih rileks dan semangat belajar. “Anak-anak lebih suka suasana seperti ini,” ungkapnya.
Tak hanya menikmati alunan musik, Menteri Mu’ti juga berbincang dengan para siswa yang antusias menceritakan pengalaman belajar dan cita-cita mereka.
Ia menekankan pentingnya seni dalam pendidikan, bukan hanya sebagai keterampilan, tetapi juga untuk membentuk karakter.
“Kalian harus punya jiwa seni supaya hati lebih lembut dan memiliki empati,” pesannya.
Sebelum meninggalkan sekolah, Menteri Mu’ti menyampaikan konsep 3H—Head, Hand, dan Heart—sebagai prinsip yang harus dipegang para siswa dalam menjalani pendidikan dan kehidupan.
“Head itu otak untuk berpikir, agar kalian menjadi orang yang serba tahu. Hand melambangkan semangat bekerja dan belajar. Sementara Heart adalah perasaan yang baik, sikap saling memaafkan, berpikir positif, dan memiliki jiwa seni,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perpaduan antara olah pikir, olah raga, dan olah hati akan melahirkan olah karsa, yang membuat seseorang menjadi kreatif dan bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.
“Anak-anak harus jadi orang yang serba tahu, serba bisa, dan punya empati terhadap sekitarnya,” pungkasnya. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













