Mendikdasmen Abdul Mu’ti Pastikan Pembelajaran AI dan Coding Tidak Dimulai dari Kelas 1 SD

- Penulis

Selasa, 19 November 2024 - 21:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mendikdasmen Abdul.Mu'ti (lazir)

Mendikdasmen Abdul.Mu'ti (lazir)

JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran terkait Artificial Intelligence (AI) dan coding tidak akan dimulai sejak kelas 1 Sekolah Dasar (SD).

Penegasan ini ia sampaikan dalam acara pembukaan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Delapan Kajian Kebijakan Pendidikan di Jakarta, Selasa (19/11/2024), merespons spekulasi publik tentang penerapan kurikulum berbasis teknologi di tingkat dasar.

“AI dan coding memang akan menjadi bagian dari kurikulum atau mata pelajaran pilihan di sekolah dasar. Namun, tidak harus dimulai sejak kelas 1,” ujar Abdul Mu’ti.

Kesiapan Jadi Kunci Utama

Abdul Mu’ti menilai pengenalan AI dan coding memerlukan kesiapan dari berbagai aspek, termasuk siswa, guru, dan infrastruktur pendukung. Ia mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak boleh membebani siswa yang masih dalam tahap awal pembelajaran.

“Kita perlu memahami bahwa materi seperti ini cocok untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Fokus utama di tingkat dasar seharusnya adalah penguatan literasi dan numerasi,” jelasnya.

Fokus pada Literasi dan Numerasi

Menurut Abdul Mu’ti, literasi dan numerasi adalah fondasi utama yang harus dikuasai siswa sebelum dikenalkan dengan teknologi seperti AI dan coding. Ia meminta pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kedua kemampuan tersebut terlebih dahulu.

“Langkah pertama yang perlu kita ambil adalah memastikan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak kita sudah kuat. Barulah setelah itu kita dapat memperkenalkan keterampilan teknologi,” tambahnya.

Abdul Mu’ti juga membantah kesalahpahaman sejumlah pihak yang mengira AI dan coding akan diterapkan sejak kelas 1 SD. “Ada pihak yang salah paham. AI dan coding ini tidak untuk kelas 1 SD. Hal ini perlu kita luruskan,” tegasnya.

Belajar dari Praktik Global

Dalam paparannya, Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa negara-negara lain yang telah menerapkan pembelajaran AI dan coding di pendidikan dasar melakukannya secara bertahap.

“Di Singapura, pembelajaran ini dimulai dari kelas 4 SD. Sementara di India, baru diajarkan di kelas 6. Begitu pula di negara-negara seperti Cina, Jepang, dan kawasan Skandinavia. Semua dilakukan sesuai tingkat perkembangan siswa,” jelasnya.

Menyesuaikan dengan Konteks Indonesia

Ia menekankan bahwa Indonesia tidak bisa hanya meniru negara lain tanpa mempertimbangkan konteks lokal, seperti kesiapan kurikulum, kompetensi guru, dan akses teknologi yang belum merata.

“Pendidikan kita memiliki tantangan unik, termasuk disparitas kualitas pendidikan di berbagai daerah. Oleh karena itu, kebijakan ini harus direncanakan dengan matang,” katanya.

Mengintegrasikan Teknologi Secara Bijak

Abdul Mu’ti berharap kebijakan pendidikan berbasis teknologi seperti AI dan coding dapat menjadi alat untuk mendukung pengembangan siswa. Ia menegaskan bahwa tujuan utama adalah menciptakan generasi yang mampu bersaing di era digital dengan dasar pendidikan yang kuat.

“Kebijakan ini tidak boleh sekadar menjadi tren. Pendidikan yang kita rancang harus mampu menyiapkan generasi mendatang agar berdaya saing global tanpa melupakan fondasi utama pendidikan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Terinspirasi Perjuangan Ibu yang Tak Lulus SD, Dwi Suswanti Berhasil Raih Gelar Doktor
Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Bekasi
LRT Jabodebek Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Nikmati Perjalanan Kereta, Perkuat Layanan Transportasi yang Inklusif

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:05 WIB

Terinspirasi Perjuangan Ibu yang Tak Lulus SD, Dwi Suswanti Berhasil Raih Gelar Doktor

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Kamis, 10 September 2026 - 15:36 WIB

TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:42 WIB

GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau

Berita Terbaru