Malam Nisfu Sya’ban 2025: Waktu yang Penuh Ampunan dan Keistimewaan

- Penulis

Kamis, 13 Februari 2025 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Malam Nisfu Sya’ban menjadi salah satu malam istimewa yang dinanti oleh umat Islam. Dalam ajaran Islam, malam ini dipercaya sebagai waktu yang penuh dengan ampunan, sehingga umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, serta amal ibadah lainnya.

Pada tahun 2025, malam Nisfu Sya’ban jatuh pada Kamis malam, 13 Februari 2025. Ini bertepatan dengan tanggal 14 Sya’ban 1446 H. Banyak umat Islam yang memanfaatkan malam ini untuk bermunajat kepada Allah SWT, baik secara sendiri maupun berjamaah di masjid atau mushala setelah salat Maghrib.

Seorang muslim harus berusaha menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan beribadah. Ini adalah kesempatan untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tata Cara Membaca Doa Nisfu Sya’ban

Dalam pelaksanaan doa Nisfu Sya’ban secara berjamaah, umat Islam biasanya membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda:

  1. Niat pertama agar diberi umur panjang dalam ketaatan.
  2. Niat kedua untuk dimudahkan rezeki yang halal dan berkah.
  3. Niat ketiga agar tetap teguh dalam keimanan hingga akhir hayat.

Setelah setiap kali membaca Surat Yasin, dianjurkan untuk membaca doa Nisfu Sya’ban. Doa ini diriwayatkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Adapun doa yang dibaca pada malam nisfu Sya’ban, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yang mengutip doa dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yaitu:  اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi, Mashâbihil hikmati wa mawâlin ni’mati, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimni bihim min kulli sû-in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘ala ghaflatin, wa lâ taj‘al ‘awâqiba amri hasratan wa nadâmatan, wardla ‘annî, fainna maghfirataka lidh dhâlimin, wa anâ minadh dhâlimîna, allâhumma ighfir lî mâ lâ yadlurruka, wa a‘thinî mâ lâ yanfa’uka, fainnaka al-wâsi’atu rahmatuhu, al-badî‘atu hikmatuhu, fa a‘thini as-sa‘ata wad da‘ata, wal-amna wash-shihhata wasy-syukra wal-mu‘âfata wattaqwa, wa afrighiash-shabra wash-shidqa ‘alayya, wa ‘alâ auliyâi fîka, wa a‘thinî al-yusra, walâ taj‘al ma‘ahu al-‘usra, wa a‘imma bi dzâlika ahlî wa waladî wa ikhwanî fîka, wa man waladanî minal muslimîna wal muslimâti wal mu’minîna wal mu’minâti.

Artinya : Ya Allah limpahkan rahmat ta’dhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunanMu untuk orang-orang zhalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikanMu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepadaMu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin dan mukminat.

Doa Nisfu Sya’ban adalah bentuk permohonan kepada Allah untuk mendapatkan keberkahan hidup, kesehatan, dan perlindungan dari segala keburukan. Tidak ada doa yang wajib, tapi membaca doa yang diajarkan ulama tentu lebih utama.

Berdoa dengan Keyakinan dan Keikhlasan

Meskipun tidak ada doa khusus yang diwajibkan, umat Islam dianjurkan untuk berdoa dengan keikhlasan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. “Yang paling penting adalah niat dan kesungguhan dalam beribadah. Malam Nisfu Sya’ban adalah waktu yang baik untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah,” ujar Ustaz Ridwan, seorang dai di Yogyakarta.

Dengan penuh harapan dan keyakinan, umat Islam di seluruh dunia menyambut malam Nisfu Sya’ban sebagai momen untuk memohon ampunan dan keberkahan. Semoga doa-doa yang dipanjatkan pada malam istimewa ini dikabulkan oleh Allah SWT. (***)

Penulis : Rahmat Kurnia Lubis

Editor : Erka

Berita Terkait

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi
Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret
Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”
Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial
Dai 3T Bergerak: Penguatan Iman dan Nasionalisme dari Pinggiran Indonesia
Dari Hisab ke Rukyat, Gen Z Dalami Ilmu Penentuan Awal Ramadan
Kemenag Salurkan Rp596 Juta, Pulihkan Madrasah dan Guru Korban Banjir–Longsor Bandung Barat

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 04:39 WIB

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:39 WIB

Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret

Sabtu, 28 Februari 2026 - 21:34 WIB

Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:12 WIB

Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:14 WIB

Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru