JAKARTA – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Fanshurullah Asa menegaskan pentingnya peran Perum Bulog dalam menjaga stabilitas harga beras di tengah fenomena kenaikan harga jual beras premium dan medium di pasar ritel.
“Menyikapi fenomena kenaikan harga beras, KPPU mendorong urgensi peran Perum Bulog, khususnya dalam fungsi stabilisasi pasar. Meskipun porsi penguasaan pasokan Bulog relatif kecil, perannya tetap strategis untuk memengaruhi pergerakan harga agar lebih stabil,” ujar Fanshurullah di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perhimpunan Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi), hingga Agustus 2025, produksi beras nasional mencapai 24,95 juta ton. Dari jumlah tersebut, Bulog hanya menguasai sekitar 17,2 persen atau 4,2 juta ton, dan lebih dari 99 persen di antaranya merupakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
KPPU juga menemukan bahwa harga beras premium dan medium di hampir seluruh wilayah telah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. “Kami melakukan survei lapangan ke tingkat penggilingan, distributor, dan pasar pengecer untuk mengidentifikasi faktor penyebab, termasuk kemungkinan hambatan di rantai pasok atau praktik usaha yang berpotensi memengaruhi harga dan kualitas beras,” jelas Fanshurullah.
Menurutnya, hasil kajian tersebut akan menjadi masukan bagi semua pemangku kepentingan agar koordinasi pengendalian harga dapat berjalan efektif, baik di tingkat pusat, daerah, maupun pelaku usaha. “Dengan peran Bulog sebagai pengelola cadangan pangan nasional, peningkatan kapasitas dan dukungan kebijakan sangat diperlukan untuk mengendalikan harga, menjaga kualitas beras di pasaran, serta memastikan keterjangkauan bagi masyarakat,” tegasnya.
Penulis : amanda az
Editor : lazir













