Kontroversi Payment ID Bank Indonesia, Pegiat Konsumen Peringatkan Risiko Pelanggaran Privasi dan Hak Asasi

- Penulis

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 10:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulus Abadi (dok. Pribadi)

Tulus Abadi (dok. Pribadi)

JAKARTA – Rencana Bank Indonesia (BI) memberlakukan Payment ID yang terhubung dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada setiap transaksi keuangan memicu kontroversi dan keresahan publik. Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menegaskan kebijakan ini berpotensi melanggar hak privasi dan hak asasi warga negara.

“Belum reda kegelisahan publik terkait pemblokiran rekening dormant, kini masyarakat kembali dibuat resah. Payment ID akan mengontrol dan mendeteksi seluruh lalu lintas transaksi dan pembayaran, baik perbankan, e-wallet, maupun e-commerce,” kata Tulus Abadi dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/8/2025).

Menurutnya, dengan Payment ID, seluruh transaksi akan terhubung dengan NIK, sehingga Bank Indonesia bisa memantau setiap aktivitas finansial warga negara. “Instrumen ini menabrak rahasia perbankan, melanggar kenyamanan dan keamanan konsumen, serta berpotensi melanggar data pribadi nasabah,” tegas Tulus.

Ia mengkritik bahwa langkah BI ini terlalu jauh masuk ke ranah privat masyarakat. Tulus juga menduga kebijakan ini hanya dijadikan instrumen untuk menggenjot pendapatan pajak. “Ironisnya, hak asasi warga negara justru dikorbankan demi mengejar pajak,” ujarnya.

Selain itu, Tulus menekankan bahwa Payment ID belum menjadi kebijakan umum di dunia. “Hanya lima negara yang menerapkannya, yaitu Singapura, Swedia, India, Brasil, dan China. Indonesia sebaiknya jangan gegabah,” jelasnya.

Ia menyarankan pemerintah mengoptimalkan penerimaan pajak dari sektor korporasi besar dan individu berpenghasilan tinggi seperti crazy rich, bukan dengan kebijakan yang berpotensi merusak kepercayaan publik.

“Kalau dipaksakan, Payment ID akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan, menurunkan transaksi digital, dan mengancam keberlanjutan ekonomi digital Indonesia,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan
Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen
Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton
50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia
Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun
Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber
Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia
Wamentan Dorong Koperasi Beli Susu Peternak Langsung, Ini Targetnya

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:39 WIB

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan

Senin, 2 November 2026 - 13:51 WIB

Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen

Minggu, 1 November 2026 - 14:20 WIB

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:47 WIB

50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:20 WIB

Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun

Berita Terbaru