Jemaah Haji 2025 Alami Kendala Serius, DPD RI Minta Audit Layanan Syarikah

- Penulis

Sabtu, 31 Mei 2025 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua I Komite III DPD RI, Prof. Dailami Firdaus, usai melakukan pemantauan langsung di Mekkah (dok dpd)

Wakil Ketua I Komite III DPD RI, Prof. Dailami Firdaus, usai melakukan pemantauan langsung di Mekkah (dok dpd)

MEKKAH –  Panas terik dan medan berat Tanah Suci bukan satu-satunya ujian bagi jemaah haji Indonesia tahun ini. Di balik kesyahduan ibadah, sejumlah persoalan mendasar justru mengusik kenyamanan jemaah. Komite III DPD RI yang tengah menjalankan fungsi pengawasannya menemukan fakta-fakta di lapangan yang patut jadi perhatian serius pemerintah.

“Masalah-masalah ini nyata dirasakan jemaah. Mulai dari akomodasi yang terpisah, keterlambatan distribusi kartu Nusuk, hingga absennya pemandu ibadah. Semua ini sangat mengganggu, terutama bagi lansia yang membutuhkan pendampingan khusus,” tegas Wakil Ketua I Komite III DPD RI, Prof. Dailami Firdaus,  usai melakukan pemantauan langsung di Mekkah, Sabtu (31/5/2025).

Pemantauan ini merupakan bagian dari pelaksanaan pengawasan atas implementasi UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Dalam pelaksanaannya di musim haji 1446 H/2025 M, delegasi DPD RI menemukan sejumlah persoalan yang dinilai mengganggu prinsip pelayanan yang adil, layak, dan manusiawi.

Persoalan pertama yang mencuat adalah pemisahan tempat tinggal antara pasangan suami-istri serta antara lansia dan pendampingnya. Hal ini terjadi akibat penempatan berdasarkan perusahaan layanan (syarikah) yang berbeda.

“Bayangkan, seorang ibu lansia harus berpisah dengan anaknya hanya karena diurus syarikah berbeda. Ini bukan sekadar soal logistik, tapi menyangkut perasaan dan keamanan,” ujar Dailami.Masalah kedua adalah keterlambatan distribusi kartu Nusuk, yang merupakan syarat utama untuk masuk wilayah Madinah dan Mekkah. Kartu ini seharusnya sudah diterima jemaah setibanya di Arab Saudi, namun kenyataannya banyak yang belum mendapatkan kartu hingga hari keberangkatan ke kota suci.

“Akibatnya, banyak jemaah tertahan. Sudah sampai di gerbang kota suci, tapi tidak bisa masuk karena belum pegang kartu. Ini tentu mengecewakan,” kata Dailami.

Masalah ketiga yang ditemukan adalah absennya muthowif—pemandu ibadah haji dan umrah—dalam beberapa kelompok jemaah. Muthowif seharusnya mendampingi jemaah selama prosesi, namun beberapa perusahaan layanan tidak menyediakan pemandu.

“Banyak jemaah bingung, terutama yang baru pertama kali haji. Mereka tidak tahu harus ke mana, kapan harus niat, apa yang harus dibaca. Padahal ini ibadah sekali seumur hidup,” jelasnya.

Terkait pernyataan Kementerian Agama bahwa penunjukan delapan syarikah dilakukan untuk mencegah monopoli layanan, Dailami menekankan pentingnya standarisasi kualitas.

“Tidak masalah jumlahnya banyak, asal kualitasnya sama. Jangan ada yang bagus luar biasa, sementara yang lain kacau balau. Harus ada evaluasi kontrak, sanksi jelas kalau melanggar, dan mekanisme pengawasan yang ketat,” tegasnya.

Komite III DPD RI mendesak Kementerian Agama agar melakukan audit menyeluruh terhadap mitra penyelenggara layanan di Arab Saudi setelah musim haji usai. Tujuannya, agar permasalahan serupa tidak kembali terjadi di tahun mendatang.

“Negara tidak boleh abai. Jemaah haji adalah tamu Allah, tapi mereka juga warga negara yang haknya harus dilindungi. Ini bukan hanya soal pelayanan, ini soal martabat dan kemanusiaan,” pungkas Prof. Dailami.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi
Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret
Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”
Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial
Dai 3T Bergerak: Penguatan Iman dan Nasionalisme dari Pinggiran Indonesia
Dari Hisab ke Rukyat, Gen Z Dalami Ilmu Penentuan Awal Ramadan
Kemenag Salurkan Rp596 Juta, Pulihkan Madrasah dan Guru Korban Banjir–Longsor Bandung Barat

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 04:39 WIB

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:39 WIB

Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret

Sabtu, 28 Februari 2026 - 21:34 WIB

Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:12 WIB

Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:14 WIB

Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru

Inara Rusli/Instagram Inara Rusli

Hiburan

Pemeriksaan Inara Rusli Akan Dijadwal Ulang

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:33 WIB

Hiburan

Dinar Candy Tolak Tawaran Rp1 Miliar untuk Kencan

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:24 WIB