JAKARTA – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengapresiasi langkah pemerintah meluncurkan Uji Terap Penyelenggaraan Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah yang digelar di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta.
Program ini diharapkan mampu menjawab ketimpangan akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak Indonesia yang terpinggirkan akibat keterbatasan ekonomi, geografis, maupun sosial.
“Uji terap PJJ ini memiliki arti yang sangat penting. Melalui kegiatan ini saya berharap akan diperoleh data dan temuan empiris yang dapat digunakan sebagai landasan kebijakan nasional dalam menyiapkan sistem PJJ yang terstruktur, berkualitas, dan berkelanjutan di masa depan,” kata Hetifah, Minggu (10/8/2025).
Hetifah menyoroti masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia yang mencapai 3.985.778 jiwa. Dari jumlah itu, 19,2% berasal dari kelompok usia 16–18 tahun. Penyebab utama anak tidak bersekolah adalah tidak mampu membayar biaya pendidikan (25,2%) dan harus bekerja atau mencari nafkah (21,54%).
Ia menegaskan, pelaksanaan PJJ harus memperhatikan aspek psikologis siswa. Kerja sama erat antara guru dan orang tua diperlukan untuk memitigasi risiko stres atau penurunan disiplin belajar. Pemerintah juga diminta menjamin pemerataan akses internet dan ketersediaan perangkat digital, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Selain itu, perlu alokasi anggaran khusus untuk pelatihan guru dan pengelola PJJ agar program ini berjalan optimal,” tambahnya.
Uji terap PJJ ini akan menggunakan modul belajar mandiri interdisipliner sesuai konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang dikembangkan Kemendikdasmen. Sistem pembelajaran akan terintegrasi dengan fitur Ruang Murid di Platform Rumah Pendidikan, dengan pendampingan penjaminan mutu dari SEAMOLEC dan Universitas Terbuka.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana












