Hasil Survei: Massa Jokowi Berbondong-Bondong Dukung Prabowo, Gap Elektabilitas Kian Melebar

Kapolres Sergai AKBP Oxy Yudha Pratesta ketika memberikan arahan kepada Manager/Coach tim peserta turnamen soccer U-15.

RENTAK.ID – Lembaga survei Political Statistics (Polstat) Indonesia merilis hasil survei terbaru mereka tentang calon presiden (capres) enam bulan jelang Pemilu 2024.

Salah satu temuan menarik dari survei Polstat kali ini adalah bahwa basis massa Presiden Jokowi semakin solid menjatuhkan pilihannya pada Prabowo Subianto.

Bacaan Lainnya

Kian besarnya arus migrasi pemilih Jokowi pada Pilpres 2019 untuk mendukung Menteri Pertahanan RI itu salah satunya disebabkan oleh ketidaknyamanan mereka berada dalam koalisi pendukung Ganjar yang dipimpin PDI Perjuangan.

Survei Polstat Indonesia kali ini dilakukan pada tanggal 28 Juli s/d 04 Agustus 2023 di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Berdasarkan hasil survei Polstat Indonesia, dukungan terhadap Prabowo Subianto dari basis massa atau pemilih Jokowi terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Jika pada survei bulan Februari 2023 baru 38,9% pemilih Jokowi pada Pilpres 2019 yang mengaku akan memilih Prabowo pada Pilpres 2024 nanti, maka pada survei bulan Mei 2023 telah meningkat menjadi 43,5% dan pada survei Polstat Indonesia bulan Agustus 2023 kali ini meningkat lagi menjadi 46,2%,” ujar Peneliti Senior Polstat Indonesia Apna Permana dalam keteranganya, Rabu (9/8/2023).

Selain faktor Jokowi Effect dimana publik menangkap semakin kuatnya sinyal endorsement Presiden Jokowi pada Prabowo Subianto, arus migrasi loyalis Jokowi juga dipicu oleh ketidaknyamanan mereka berada dalam koalisi pendukung Ganjar yang dipimpin oleh PDI Perjuangan.

Sikap elit politik PDI Perjuangan, terutama Megawati, yang cenderung konservatif dan paternalistik membuat kondisi tidak nyaman elemen-elemen pendukung Ganjar.

Sikap yang disampaikan sejumlah petinggi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum lama ini nampaknya mewakili perasaan dari unsur-unsur pendukung Ganjar lainnya.

Di samping mendapatkan insentif elektoral dari elemen-elemen basis massa Jokowi, Prabowo Subianto juga memperoleh bonus dukungan dari sebagian loyalis PDI Perjuangan yang nampaknya mulai gerah dengan gaya kepemimpinan Megawati yang kaku, konservatif dan kurang egaliter.

“Berdasarkan hasil survei Polstat Indonesia persentase pemilih PDI Perjuangan yang mengaku akan memilih Prabowo pada Pilpres 2024 nanti lambat tapi pasti terus meningkat,” kata Apna.

Dijelaskan, pada survei bulan Februari 2023 baru 31,2% pemilih PDI Perjuangan yang mengaku mendukung Prabowo, maka pada survei bulan Mei 2023 telah meningkat menjadi 34,6% dan pada survei Polstat Indonesia bulan Agustus 2023 kali ini meningkat lagi menjadi 38,8%.

“Ini mengindikasikan bahwa ada masalah di internal PDI Perjuangan yang membuat para politisi maupun simpatisannya yang merasa kurang nyaman dengan gaya kepemimpinan Megawati,” lanjutnya.

Menurutnya, suara-suara dukungan maupun simpati terhadap Prabowo yang disampaikan Effendi Simbolon dan Budiman Sujatmiko belum lama ini dapat dibaca sebagai representasi ketidaknyamanan tersebut.

Gap Elektabilitas Prabowo-Ganjar Kian Melebar

Imbas dari arus migrasi basis massa Jokowi dan pemilih PDI Perjuangan dengan sendirinya adalah meningkatnya elektabilitas Prabowo Subianto.

Dalam berbagai format pertanyaan dan simulasi, elektabilitas Prabowo terus unggul atas Ganjar maupun Anies Baswedan. Bahkan khusus dengan Ganjar, gap elektabilitasnya kian melebar dari waktu ke waktu.

Sentimen Negatif Terhadap PDI-P dan Ganjar Menguat

Selain kian melebarnya gap elektabilitas Prabowo-Ganjar (Prabowo menguat, Ganjar melemah), hasil analisis media monitoring yang dilakukan Polstat Indonesia juga mengindikasikan bahwa sentimen negatif terhadap PDI Perjuangan dan Ganjar Pranowo  semakin  menguat  dalam dua minggu terakhir.

“Dari tiga capres papan atas, Ganjar memiliki sentimen negatif tertinggi dari warganet, yakni sebesar 11,3%, Sedangkan Anies Baswedan sentimen negatifnya sebesar 9,9% dan Prabowo Subianto hanya 3,7% saja,” beber Apna.

Lebel “petugas partai” yang disematkan kepada Ganjar dan selalu didengungkan oleh Megawati, merupakan salah faktor yang membuat sentimen negatif terhadap Ganjar tertinggi diantara capres tiga besar.

Sementara itu PDI Perjuangan juga menjadi partai peserta Pemilu 2024 dengan sentimen negatif tertinggi, khususnya jika dibandingkan dengan partai-partai yang bercokol di posisi lima besar.

Tingginya sentimen negatif terhadap PDI Perjuangan selain berdampak pada elektabilitas Ganjar Pranowo yang semakin melemah, juga berimplikasi langsung pada elektabilitas PDI Perjuangan itu sendiri.
(***)

Pos terkait