Deflasi Terparah dalam 25 Tahun! Anis Byarwati: Daya Beli Anjlok, Pemerintah Harus Waspada!

- Penulis

Kamis, 6 Maret 2025 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anis Byarwati (dok. pribadi)

Anis Byarwati (dok. pribadi)

JAKARTA – Indonesia mencatatkan deflasi tahunan pertama sejak Maret 2000, sebuah kondisi yang patut diwaspadai oleh pemerintah.

Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan, Anis Byarwati, menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat yang harus segera ditangani.

“Artinya, setelah 25 tahun, Indonesia kembali mengalami deflasi tahunan. Lembaga eksekutif perlu mendalami situasi ini dan mewaspadainya,” ujar Anis dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (6/3/2025).

Sebelumnya, Indonesia mengalami deflasi bulanan secara beruntun pada Mei-September 2024. Tren ini berlanjut dengan deflasi sebesar 0,76 persen pada Januari dan 0,02 persen di Februari 2025.

Menurut Anis, kondisi ini terjadi karena masyarakat cenderung menunda konsumsi, menandakan tekanan ekonomi yang nyata.

“Deflasi berulang ini menunjukkan daya beli masyarakat masih lemah. Jika tidak segera diatasi, dampaknya bisa berlanjut ke sektor produksi dan investasi,” jelasnya.

Anis juga menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2024 tinggal 47,85 juta orang atau sekitar 17,13 persen dari total populasi.

Angka ini menurun drastis dibandingkan 2019, yang mencapai 57,33 juta orang atau 21,45 persen. “Sebanyak 9,48 juta orang dari kelas menengah turun kelas. Ini jadi indikator kuat bahwa daya beli masyarakat sedang turun,” tambahnya.

Legislator PKS ini menilai, Kabinet Merah Putih mewarisi dampak makroekonomi dari pemerintahan sebelumnya. Oleh karena itu, kementerian terkait harus lebih cermat dalam menangani deflasi yang berulang agar tidak semakin menekan perekonomian nasional.

“Kementerian terkait harus cepat bertindak. Penurunan harga yang terus menerus bisa mengurangi aktivitas ekonomi, yang justru semakin memperburuk kondisi pasar,” tegasnya.

Meskipun BPS menyebut bahwa deflasi ini salah satunya dipicu oleh diskon tarif listrik, Anis tetap mendorong adanya kebijakan yang lebih proaktif untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

“Menjelang Ramadan, konsumsi masyarakat seharusnya meningkat. Menurut kajian Redseer Strategy Consultants, total belanja masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 diperkirakan mencapai Rp 1.188 triliun. Pemerintah perlu memastikan kebijakan seperti diskon tarif transportasi dan pencairan THR, termasuk untuk pekerja informal seperti ojek online, agar daya beli masyarakat terdorong,” pungkasnya. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini
Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu
Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027
1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton
Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini
Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru
Kuota Tuna Sirip Biru Indonesia Naik 25 Persen, Berpeluang Tembus 3.170 Ton per Tahun
Laba BULOG Cetak Rekor Rp2,4 Triliun, Akhir Tahun Diprediksi Tembus Rp3 Triliun

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:03 WIB

Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:42 WIB

1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini

Berita Terbaru