Banyak Sekolah Kekurangan Murid Baru, Kemendikdasmen Siapkan Kebijakan Berbasis Data

- Penulis

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pelajar SMP (dok. kemendikdasmen)

Ilustrasi pelajar SMP (dok. kemendikdasmen)

JAKARTA – Fenomena sejumlah sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik baru pada Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi perhatian serius Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Pemerintah menilai kondisi tersebut bukan disebabkan oleh satu faktor semata, melainkan dipengaruhi perubahan demografi, perpindahan penduduk, hingga pergeseran preferensi masyarakat dalam memilih sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis berbasis data untuk memastikan seluruh sekolah tetap mendapatkan dukungan yang memadai, terutama sekolah dengan jumlah peserta didik yang sangat sedikit.

Menurutnya, perubahan jumlah penduduk usia sekolah, perkembangan kawasan permukiman, mobilitas masyarakat, kondisi geografis, hingga pilihan orang tua terhadap satuan pendidikan menjadi faktor utama yang memengaruhi jumlah pendaftar di berbagai daerah.

Sebagai dasar penyusunan kebijakan, Kemendikdasmen telah melakukan pemetaan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Pendataan tersebut difokuskan pada sekolah yang memiliki kurang dari 100 murid, termasuk sekolah yang jumlah siswanya di bawah 60 orang.

Data hasil pemetaan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai bagian dari koordinasi lintas kementerian untuk menyusun solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

Selanjutnya, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah akan merumuskan kebijakan bagi sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peserta didik sangat terbatas. Keterlibatan pemerintah daerah dinilai penting karena pengelolaan satuan pendidikan merupakan kewenangan pemerintah daerah.

“Kami berkomitmen untuk terus mendorong pemerataan mutu pendidikan agar seluruh sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan menjadi pilihan masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga setiap sekolah memiliki daya saing yang baik,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Selain itu, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah juga akan menjalankan sejumlah langkah strategis. Di antaranya memetakan kebutuhan layanan pendidikan berdasarkan perkembangan demografi dan persebaran penduduk, mengevaluasi daya tampung sekolah agar sesuai kebutuhan wilayah, memperkuat perencanaan pendidikan berbasis data, serta memastikan sekolah dengan jumlah murid terbatas tetap memperoleh pendampingan dan layanan pendidikan yang optimal.

Abdul Mu’ti menegaskan evaluasi terhadap kondisi sekolah akan dilakukan secara berkala agar kebijakan yang diterapkan benar-benar sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

“Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, evaluasi secara berkala sangat diperlukan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di wilayah tersebut,” katanya.

Di sisi lain, Kemendikdasmen juga mencermati perubahan preferensi masyarakat dalam memilih sekolah. Berdasarkan hasil studi Litbang Kompas tahun 2025, terdapat kecenderungan sebagian orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di jenjang sekolah dasar yang memiliki afiliasi keagamaan. Temuan tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan ke depan.

Mengakhiri keterangannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

“Kami mengajak pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, serta seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan. Dengan kolaborasi yang kuat, setiap sekolah dapat berkembang sesuai potensi wilayahnya dan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang setara, bermutu, serta mampu meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas
Pemerintah Perluas Wajib Belajar 13 Tahun, Revitalisasi TK Melonjak Jadi 13.831 Unit
Dua Tahun Belajar Pagi-Sore, SMAN 7 Pontianak Akhirnya Dapat Bantuan Revitalisasi
Kunjungi Rumah Mahasiswa Unram, Lalu Hadrian Ungkap Pentingnya KIP Kuliah

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:17 WIB

Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:05 WIB

5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:34 WIB

Pemerintah Perluas Wajib Belajar 13 Tahun, Revitalisasi TK Melonjak Jadi 13.831 Unit

Berita Terbaru

Resident Evil Extinction dibintangi Milla Jovovich. (Constantin Film International GmbH & Davis Films-Impact Pictures Inc.)

Hiburan

Film Resident Evil: Extinction Tayang Malam Ini di Trans TV

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:31 WIB