Arzeti Bilbina: Ancaman PHK Massal di Hotel Bisa Guncang Ekonomi Nasional

- Penulis

Selasa, 10 Juni 2025 - 15:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Arzeti Bilbina. (dok. pribadi)

Arzeti Bilbina. (dok. pribadi)

JAKARTA – Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan bukan hanya sinyal bahaya bagi ribuan pekerja, tapi juga ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi nasional. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Arzeti Bilbina, memperingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap gejala krisis yang tengah menjalar di industri pariwisata.

“Sektor perhotelan adalah tulang punggung ekonomi, terutama di kawasan bisnis dan wisata. Jika sektor ini kolaps, dampaknya akan berantai—dari pekerja hingga sektor pendukung lainnya,” kata Arzeti dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (10/6/2025).

Peringatan ini muncul setelah survei Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) DKI Jakarta mengungkap 96,7 persen hotel mengalami penurunan tingkat hunian pada triwulan pertama 2025. Penurunan paling tajam terjadi di segmen pasar pemerintah, imbas dari kebijakan pengetatan anggaran di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dampaknya, sekitar 70 persen pengusaha hotel dan restoran di Jakarta berencana melakukan efisiensi tenaga kerja, termasuk PHK, dengan proyeksi pengurangan 10 hingga 30 persen jumlah karyawan.

“Tren PHK di sektor padat karya bisa jadi cerminan awal. Meski belum tercatat secara resmi, sektor perhotelan sangat rentan terhadap tekanan ini,” tambah legislator asal Dapil Jawa Timur I tersebut.

Arzeti mendesak Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif segera membentuk satuan tugas khusus untuk menangani isu PHK di sektor perhotelan. Menurutnya, kebijakan tak boleh datang terlambat.

“Kita butuh tindakan nyata: pemetaan risiko, stimulus industri, serta pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan bagi pekerja terdampak,” tegasnya.

Pemerintah, lanjutnya, harus proaktif dan tidak boleh membiarkan ancaman ini berkembang menjadi gelombang PHK massal nasional.

Gelombang PHK di Indonesia memang sedang naik. Data Apindo mencatat, pada Januari–Februari 2025, sebanyak 40.000 pekerja kehilangan pekerjaan, dengan konsentrasi di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Tangerang. Sedangkan data Kemenaker menunjukkan per April 2025 ada 24.360 kasus PHK atau rata-rata 6.090 per bulan.

“Ini momentum krusial. Kalau tidak segera direspons, kita bisa menghadapi krisis ketenagakerjaan yang jauh lebih dalam,” tutup Arzeti.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen
Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton
50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia
Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun
Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber
Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia
Wamentan Dorong Koperasi Beli Susu Peternak Langsung, Ini Targetnya
Mentan Bongkar Modus Penyelewengan Beras SPHP, 8 Pegawai Bulog dan Bapanas Dicopot

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:20 WIB

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:47 WIB

50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:20 WIB

Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia

Berita Terbaru