JAKARTA – Hari itu, saya melakukan perjalanan menuju Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jakarta. Awalnya saya berniat menggunakan Mass Rapid Transit (MRT) dari Stasiun Lebak Bulus, tetapi ternyata rutenya hanya sampai Bundaran HI. Akhirnya, saya melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta, menghadapi pemandangan yang sudah tidak asing lagi di ibu kota: lautan manusia yang berdesak-desakan di transportasi umum.
Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatian saya di tengah keramaian itu. Seorang anak muda berdiri di depan saya, tenggelam dalam sebuah buku. Ia tampil sederhana dengan kaos oblong, sandal jepit, dan rambut gondrong. Tidak ada gadget di tangannya, tidak pula ia terlihat sibuk memeriksa notifikasi atau mendengarkan musik seperti kebanyakan penumpang lainnya.
Pemandangan ini terasa begitu langka di Jakarta, di mana mayoritas orang lebih sibuk dengan ponsel mereka, baik untuk bermain media sosial, menonton video, atau sekadar berselancar di dunia maya.
Dalam hati saya bergumam, “Anak muda ini berbeda.”
Rasa penasaran saya semakin memuncak. Apa gerangan yang membuatnya begitu khusyuk membaca? Dengan sedikit usaha, saya mencoba mengintip judul buku itu. Awalnya saya menduga mungkin itu komik, novel fiksi, atau biografi populer. Ternyata dugaan saya meleset jauh. Judulnya adalah “The Passions of The Soul” karya René Descartes.
Saya tertegun. “Wah, ini buku filsafat!”pikirku sejenak.
Buku ini bukan bacaan ringan yang bisa dinikmati sambil lalu di tengah hiruk-pikuk kota. Ia berbicara tentang bagaimana manusia memahami dan mengelola emosi serta pikirannya secara rasional, dengan pendekatan filosofis yang mendalam.
Sesekali, anak muda itu melipat sudut halaman bukunya, mungkin menandai bagian-bagian penting. Saya hanya bisa mengamati dalam diam, merasa kagum.
“Saya sendiri, yang tertarik dengan filsafat, belum tentu akan membaca buku seberat ini di tengah perjalanan,” batin saya.
Perjalanan singkat hari itu ternyata memberi saya pelajaran berharga. Di tengah dunia yang semakin digital, masih ada jiwa-jiwa muda yang memilih tenggelam dalam halaman buku, mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar hiburan instan. Sebuah pemandangan sederhana, namun penuh makna. ( RKL)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka













