RENTAK.ID – Jamu adalah minuman sehat tradisional Indonesia. Jamu terbuat dari rempah-rempah khas Indonesia. Dipercaya dapat membuat tubuh segar dan selalu fit.
Laki-laki berusia 58 tahun itu bernama Baharuddin Saputra. Seorang ASN Polri yang sebentar lagi masuk masa pensiun dari masa tugas sebagai staf Bid Humas Poldasu. Kini sedang merintis sebuah usaha di bidang Jamu.
Cafe Jamu Om Bahar Berfikir Indah, namanya. Letaknya di Gerbang Perumahan Cluster Rumah Pondok (CRP Jln. Kayu Embun simpang Jln Pantai Bunga Deli tua). Bukanya sejak sore hingga tengah malam.
Bukan ‘ujug-ujug’ Bahar memulai usaha jamunya ini. Sudah dipelajarinya sejak lima tahun lalu. Berawal dari kegemarannya minum jamu. Itu pula yang membuat dirinya selalu fit. Meski pernah terserang sakit.

Nah, Sabtu 7 Oktober 2023, Bahar Green Opening (GO). Sejak itu, caffe jamunya dimulai. Lengkap. Dari mulai Jamu masuk angin, capek-caoek, pegel linu, kunyit asam, temu lawak, beras kencur, masuk angin, lemah syahwat, puding telur bebek, telur ayam kampung plus madu dan gingseng kuda laut, serta jamu herbal lainnya. Semua ada.
Bermula dari suka minum jamu
Usaha ini juga sebagai tempat sharing berdiskusi tentang jamu. Dan juga herbal-herbal kesehatan tentang manfaat berbagai daun-daunan, akar, batang tumbuhan berkhasiat seperti yang sudah akrab di kalangan masyarakat Indonesia.
“Usaha ini kita mulai sebagai usaha berbagi tips sehat buat sahabat yang gemar jamu tradisional dikemas secara modern, ” ujar Baharuddin Saputra yang langsung meracik dagangannya didampingi sang istri Evi Khairani saat lounching .
Saat berdomisili di Sampali Bahar mengaku terinspirasi dengan penjual jamu Wak Lan di impang Psr 7 Sampali, dan ketika pindah rumah di Complek CRP ia tekun memperhatikan dan banyak bertanya dengan Alm.Pak Haji yang buka kios jamu di gerbang masjid Assyakirin Deli tua.
“Dari kedua pedagang jamu yang sukses itulah aku belajar. Kemudian kuat tekad untuk ikut usaha dagang jamu, ” ujarnya.
Bahar mengaku tahu betul Jamu adalah kekayaan Indonesia yang seharusnya terus dirawat. Kata bahar sebagai warisan nenek moyang, pengetahuan tentang Jamu tidak boleh hilang ditelan jaman.
“Itu juga tentunya merupakan salah satu pendorong niat aku untuk mengolah segala tumbuhan berkhasiat untuk dijadikan jamu. Agar segala pengetahuan tentang Jamu semakin kaya dan menjadi kekayaan bangsa ini kelak, ” ujarnya.
Kata Bahar pemerintah saat ini juga tengah merawat segala kekayaan intelektual bangsa ini. Hal itu juga tercantum dalam undang-undang pemajuan kebudayaan. Jadi kata Bapak dua anak ini, dagang jamu sekaligus mendorong aktifitas kebudayaan terutama di bidang jamu tradisional.
“Selama ini kan image orang kalau minum jamu itu seperti kebanyakan. Di tepi jalan di mana banyak melintas kederaan. Nah aku berfikir, kenapa minum jamu identik dengan kampung. Mengapa gak ada kafe jamu. Dari situ aku terdorong untuk membuat kafe, ” kata Bahar.
“Aku kira menikmati segelas jamu dengan nongkrong di kafe sambil lanjut minum bandrek atau minuman sehat lainnya, lebih indah. Sehingga cara berfikir pun jadi indah, ” kata Bahar tanpa bermaksud merendahkan pedagang jamu pinggur jalan.
Kata Bahar lagi, ke depan kafe jamu miliknya juga akan mengetengahkan pengetahuan tentang jamu. Sambil minum jamu sambil belajar literasi tentang berbagai khasiat jamu.
“Masyarakat kita harus akrab dengan berbagai jamu. Sebagai warisan nenek moyang tentunya tubuh kita sudah sangat akrab dengan rempah-rempah dan Jamu-jamuan. Apalagi kalangan gen z, ” harapnya.
Dijatakannya juga, kebanyakan masyarakat takut minum jamu karena rasanya yang pahit. “Itu jaman dulu. Sekarang minum jamu dicampur madu dan telur. Sehingga jika dibandingkan dengan tst (tes susu telur) rasanya sebelas dua belas, ” beber pria yang pernah menjabat ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara ( 2017-2022).
Untuk itu lanjut Bahar dirinya berobsesi ingin membuat cafe jamu yang representatif dengan kemasan yang menarik dan penuh sentuhan artistik. “Ya udah daripada minum yang tak jelas, mending mampir sini, tak buatin jamu yang istimewa, ” tandasnya.***













