CILEGON – Kebakaran yang menimpa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi di alur masuk Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2025) sore, berhasil ditangani dengan memprioritaskan keselamatan penumpang dan awak kapal. Seluruh penumpang dan awak kapal dilaporkan berhasil dievakuasi dengan selamat ke KMP Royce 1.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten terus memantau perkembangan insiden tersebut. Hingga laporan awal disampaikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, sedangkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Kepala KSOP Kelas I Banten, Yogie Nugraha, mengatakan keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas utama sejak informasi kebakaran diterima.
“Begitu menerima informasi kejadian, petugas segera berkoordinasi dengan VTS Merak, unsur pelabuhan, Basarnas, serta instansi terkait untuk mendukung proses evakuasi dan penanganan kebakaran secara cepat dan terkoordinasi,” kata Yogie.
Berangkat dari Bakauheni, Kapal Terbakar Saat Menuju Merak
Berdasarkan informasi awal Vessel Traffic Service (VTS) Merak, insiden kebakaran dilaporkan sekitar pukul 16.15 WIB. Saat itu, KMP Batumandi tengah berada di alur masuk penyeberangan Merak setelah bertolak dari Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 14.52 WIB.
Begitu menerima laporan darurat, petugas VTS Merak segera menyebarkan informasi kepada unsur terkait dan mengoordinasikan pengerahan bantuan. Sejumlah kapal tunda, kapal penyeberangan, serta unsur pendukung lainnya dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan kebakaran.
Perkembangan penting terjadi pada pukul 16.56 WIB. Berdasarkan laporan yang diterima VTS Merak, KMP Royce 1 menginformasikan bahwa seluruh penumpang dan awak KMP Batumandi telah dievakuasi ke kapal tersebut.
“Seluruh penumpang dan awak KMP Batumandi telah dievakuasi ke KMP Royce 1 dan dilaporkan selamat. Sementara itu, sumber api masih harus didalami,” ujar Yogie.
Keberhasilan evakuasi tersebut menjadi fokus utama penanganan insiden, sementara petugas terus melakukan pemantauan terhadap situasi di perairan sekitar lokasi kejadian.
Sejumlah Kapal Dikerahkan untuk Penanganan
Penanganan kebakaran KMP Batumandi melibatkan sejumlah kapal dan unsur pendukung, yakni TB Gunung Cipala, TB Avatar Harbour, TB Teluk Jakarta, TB Tirtayasa V, TB Gunung Batur, TB Gunung Santri, KNP 333, KMP Royce 1, KMP Munic 3, KMP SMS Mulawarman, serta kapal Bea Cukai BC 9006.
VTS Merak berperan dalam pemantauan situasi, penyampaian informasi darurat, serta koordinasi antarkapal dan instansi yang terlibat. Komunikasi tersebut diperlukan agar pengerahan bantuan dan penanganan di jalur pelayaran dapat berlangsung secara terkoordinasi.
Yogie menegaskan, keselamatan personel dan keamanan pelayaran di sekitar lokasi tetap menjadi perhatian selama proses penanganan berlangsung.
“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur keselamatan. Kami juga akan mendukung pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebab kejadian serta memastikan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan,” katanya.
Penyebab Kebakaran KMP Batumandi Masih Diselidiki
Hingga saat ini, penyebab kebakaran KMP Batumandi belum dapat dipastikan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sumber api dan memastikan kondisi kapal setelah insiden.
KSOP Kelas I Banten menyatakan informasi mengenai kondisi kapal dan perkembangan penanganan akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi resmi.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut juga mengapresiasi respons dan kerja sama seluruh unsur yang terlibat dalam proses evakuasi. Kesiapsiagaan petugas dan koordinasi lintas instansi dinilai berperan penting dalam menghadapi keadaan darurat di laut.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan mengingatkan operator kapal agar tidak mengabaikan aspek keselamatan pelayaran, termasuk pemeriksaan kondisi teknis kapal dan kesiapan menghadapi situasi darurat.
“Kami mengimbau seluruh operator kapal untuk senantiasa mengutamakan keselamatan pelayaran, memastikan kondisi teknis kapal memenuhi persyaratan, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat guna melindungi penumpang, awak kapal, dan pengguna jasa transportasi laut,” tutup Yogie.
Penulis : dafri jh
Editor : ami






