JAKARTA – Indonesia mematangkan persiapan menghadapi WorldSkills Competition (WSC) 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 20 kompetitor dan 17 expert disiapkan untuk membawa nama Indonesia dalam kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia tersebut.
Kontingen Indonesia juga diperkuat technical delegate, technical delegate assistant, pelatih, pendamping, dan tim pendukung. Para kompetitor berasal dari siswa dan alumni SMK, institusi pendidikan, serta mitra industri.
Persiapan dilakukan sejak Februari 2026 melalui Competition Preparation Week dan dilanjutkan dengan berbagai simulasi yang menyerupai kondisi kompetisi. Pembinaan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga mental, disiplin, ketelitian, dan kemampuan bekerja di bawah tekanan.
Salah satu kompetitor, Kanya Anggrek Gunawan, alumnus SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, akan tampil pada bidang 3D Game Art. Bidang ini menjadi salah satu tantangan baru karena untuk pertama kalinya Indonesia mengikuti kompetisi pada kategori tersebut.
“Persiapan yang kami jalani cukup panjang dan banyak hal yang saya pelajari, bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga bagaimana menjaga fokus, disiplin, dan mental dalam menghadapi kompetisi,” ujar Kanya di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
“Saya harap ketika bertanding, kami bisa fokus mengerjakan sesuai apa yang sudah dipelajari dan bisa memberikan yang terbaik untuk negeri,” lanjutnya.
Sementara itu, kompetitor bidang Auto Body Repair, Dewangga Pratama Putra dari SMK Krian 2 Sidoarjo, telah menjalani pelatihan sekitar enam bulan bersama industri.
“Untuk target saya, yang paling utama adalah Gold Medal, tapi yang paling minimum adalah Medal of Excellence,” kata Dewangga.
Ia juga ingin membawa pulang pengalaman untuk dibagikan kepada adik kelasnya setelah kompetisi.
“Saya mengharapkan ada junior yang meneruskan bakat-bakat saya di bidang auto body repair terutama, dan skill-skill yang saya miliki bisa diasah oleh adik-adik kelas selanjutnya,” tuturnya.
Pada bidang Robot Systems Integration, expert Reza Pahlevi mengatakan tim yang didampinginya merupakan juara pertama ASEAN Skills 2025 di Filipina. Tim tersebut menjalani pelatihan sekitar tiga hingga empat bulan di training center industri.
Reza menilai perkembangan robotik dan kecerdasan artifisial (AI) membuat talenta vokasi harus terus meningkatkan keterampilan.
“Kalau kita tidak meng-upskilling, tidak me-reskilling kita, kita akan ketinggalan zaman, ketinggalan teknologi yang nantinya akan diambil oleh AI dan robotik yang ada di dunia,” ujarnya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq berharap kontingen Indonesia mampu menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus membawa pulang pengalaman yang dapat dibagikan kepada dunia pendidikan vokasi di Tanah Air.
“Juara itu bukan semata-mata kita ranking 1, ranking 2, atau ranking 3, ataupun tidak semata-mata kita meraih medali atau tidak, tetapi itu juara menyangkut soal mentalitas, menyangkut soal cara pandang hidup,” kata Fajar.
Ia berpesan agar seluruh kontingen tetap bangga atas proses yang telah dijalani dan membagikan pengalaman dari Shanghai kepada komunitas pendidikan dan vokasi di Indonesia.
“Apa pun hasilnya, pulanglah kembali ke tanah air dengan kebanggaan, dengan tanggung jawab bahwa apa yang telah dicapai di Shanghai, apa yang telah dilihat dan dipelajari di Shanghai itu perlu ditularkan, disebarkan di Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri












