Oleh. Haris Rasuan*
LAYAKNYA cowok matre (istilah Gen-Z) yang berpacaran dengan lawan jenis selalu kedepankan matre (uang dan sejenisnya, Red) dan ketika sudah tidak ada yang bisa dimanfaatkan pacarnya ditinggal: Habis Manis Sepah Dibuang.
Pepatah ini rasanya tidak berlebihan dialamatkan kepada Dr. Febrie Adriansyah, Mantan Jampidsus.
Setelah sukses tangani Mega Skandal Korupsi mulai perkara tata kelola timah yang merugikan negara Rp 323 triliun bukan 5 triliun, tata kelola minyak mentah yang rugikan negara Rp 285 triliun dan tersangkakan The Gasoline Godfather M. Riza Chalid yang selama ini selalu lolos jerat hukum, seperti kasus Papa Minta Saham, kemudian ditinggalkan.
Padahal, pria berpenampilan Humble kepada wartawan juga sukses kuasai lagi 5 juta hektar kawasan hutan yang selama ini dieksploitasi oleh para pengusaha yang diduga terafiliasi dengan Oligarki dan tidak bayar pajak (bandingkan rakyat kecil yang selalu diuber bahkan sertakan aparat berseragam untuk paksa bayar pajak).
Dalam kapasitas Ketua Pelaksana Satgas PKH juga, dia juga mampu paksa para pengusaha tambang dan perkebunan sawit ilegal bayar denda administratif sampai triliunan. Yang bandel dijadikan tersangka seperti Surya Darmadi (Sawit di Riau), Samin Tan (batubara di Kalteng) dan Aseng alias Sudianto (bauksit di Kalbar).
Setelah semua diserahkan ke negara dan bahkan diserahkan langsung kepada Presiden di Babel (barang rampasan 5 Smelter) dan puluhan triliun uang tunai kepada Presiden, dia ditinggalkan. Dijadikan tersangka dan dijebloskan ke penjara.
Dia dianggap barang “busuk” seperti penderita penyakit HIV dan sejenisnya sehingga Penguasa dan Pimpinan Kejaksaan menjaga jarak dan bahkan terkesan meninggalkannya dalam kesunyian di Rutan KPK Gedung Merah Putih.
Semua seolah senang dan gembira karena bisa lolos bidikan Febrie saat menjabat Jampidsus dan mem-framing di media sosial sedemikian rupa seakan dirinya sudah divonis bersalah.
Tidak ada himbauan dan atau ancaman dari penguasa terhadap framing yang lebih banyak didasarkan kepada pesanan dan bukan bukti yang sesungguhnya.
Dia dianggap sebagai pejabat yang kaya raya yang memanfaatkan jabatan untuk perkaya diri dan pantas dihina dan dicaci-maki seenak udelnya. Mereka lupa bercermin diri.
PEMBUKTIAN TERBALIK
Kita asumsikan saja apa yang disangkakan kepada Febrie BENAR meski jauh panggang dari api. Sesungguhnya, banyak ditemukan oknum penguasa yang lebih gila kekayaannya tanpa diketahui hasilnya dari mana. Sampai ada yang memiliki 8 pesawat private jet ?
Siapkah mereka bila dilakukan pembuktian terbalik?
Pemerintah bisa menjadi inisiator untuk melakukan revisi undang-undang sehingga LHKPN yang dilaporkan setiap pejabat ke KPK tidak hanya bersifat administratif, tapi disertai asal usul aset yang dimiliki dengan melibatkan kantor akuntan publik yang terpercaya: Jika tidak bisa dijelaskan dan bahkan ditemukan aset lain (dan disamarkan, Red) yang bisa jadi lebih besar diseret ke meja hijau.
Melihat sistem demokrasi liberal malah, sulit diharapkan. RUU Perampasan Aset sebagai contoh tak kunjung dibahas oleh DPR bersama Pemerintah sampai detik ini. Semua hanya dicitrakan seolah pemerintah dan DPR peduli. Padahal-padahal.
Dalam sistem yang dibangun paska Suharto mengundurkan diri pada Mei 1998 menuntut setiap calon wakil rakyat apalagi calon presiden harus merogoh kantong dalam-dalam jika ingin terpilih.
Karena kantongnya bernominal kecil, maka suka tidak suka partisipasi dari pengusaha dan atau partisipan lain. Jamak kedengarannya, jika kemudian banyak yang oknum penguasa di-OTT KPK: Terima suap dan atau Ijon Proyek serta bagi-bagi proyek sebagai balas Budi atas sumbangannya di Pemilu dan Pilpres.
Lolos dari OTT KPK juga banyak dan bahkan tanpa malu mempertontonkan di ruang Publik, dengan kendarai Alphard Lexus, Jip Range Rover dan lainnya. Lainnya,memiliki perkantoran mewah di kawasan segitiga emas.
Namun satu hal pasti mereka tidak akan lolos. Tuhan Tidak Pernah Tidur. Lolos dari Adzab dunia, mereka tidak akan lolos dari pengadilanNya di hari Akhir: Tidak ada perbuatan busuk seberat biji sawi pun lolos dariNya.
KAMBING HITAM
Kembali kepada kasus Febrie, dia sengaja dikorbankan dan di-kambing hitam-kan seolah menjadi penyebab carut marut di negeri ini.
Publik dibuat senang, namun saat bersamaan mereka lupa bahwa suatu saat mereka akan dibebani aneka pajak lantaran tiada lagi setoran uang tunai puluhan triliun ke negara.
Devisit APBN 2026 yang mencapai angka Rp 196, 5 triliun saja rakyat sudah marah sehingga memunculkan seruan aksi tidak bayar pajak lantaran muncul peraturan baru yang menjerat setiap langkah rakyat.
Kita tidak dalam posisi kultus individu. Tapi, untuk mencetak seorang Febrie yang cerdas, tegas dalam penanganan Mega Skandal Korupsi (bukan korupsi ecek-ecek, Red) tidaklah mudah. Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun di tengah iklim yang sarat praktik koruptif dan bisa jadi ikut larut: Ingin kaya tanpa peduli dari mana asal uang.
Kasus Febrie bisa jadi pula membuat orang – orang pintas dan cerdas di negeri ini tidak akan mau bekerja di lembaga pemerintah. Bukan ke negeri Yaman, namun ke negara-negara Eropa, AS dan Australia sebagai pilihan untuk masa depan.
Indikasi itu nampak dua tahun terakhir, khususnya saat minimnya lowongan kerja lantaran BUMN yang banyak diisi oleh orang-orang Parpol menjadi merugi dan usaha swasta yang tutup atau pengurangan pegawai lantaran kebijakan pemerintah yang tidak kondusif: Istilah mereka daripada di-Febrie-kan.
Manusia itu tempatnya salah dan lupa, seperti yang sering disampaikan para ulama yang makna bersumber hadis Nabi Muhammad SAW.
Seorang Nabi (Adam) pun pernah melanggar perintah Allah dengan memetik dan memakan buah terlarang.
Bedanya, dia taubat dan tidak mengulangi perbuatannya serta membuktikan di hadapan pengikutnya bukan sekedar naik haji dan umroh lalu perbuatannya diampuniNya, seperti banyak dipertontonkan para penguasa dan oknum pengusaha nakal di platform media sosial.
*Penulis adalah Wartawan Senior
Penulis : haris rasuan






