JAKARTA – Senyum malu-malu terlihat di wajah Nasya Losefa Zega saat berdiri di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Di tangannya tergenggam selembar surat tulisan tangan yang ia beri judul sederhana, “Surat Cinta untuk Pak Presiden”.
Momen itu terjadi saat kunjungan kerja Mendikdasmen ke SD Negeri 077279 Siofabanua, Kabupaten Nias Utara, Kamis (19/6/2026). Di tengah suasana sekolah yang kini telah berubah wajah, siswi kelas III berusia sembilan tahun tersebut menyerahkan surat yang berisi ungkapan syukur sekaligus harapan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Surat yang ditulis Nasya menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana program pembangunan pendidikan mulai dirasakan langsung oleh anak-anak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Saat menerima surat itu, Abdul Mu’ti sempat memastikan bahwa tulisan tersebut benar-benar hasil karya Nasya sendiri.
“Ini kamu tulis sendiri ya?” tanya Abdul Mu’ti.
“Ya, saya tulis sendiri, Pak,” jawab Nasya dengan penuh percaya diri.
Mendengar jawaban tersebut, Mendikdasmen memberikan apresiasi atas keberanian dan kemampuan Nasya menuangkan pikirannya melalui tulisan.
“Bagus sekali. Nanti surat ini akan saya sampaikan langsung kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto,” kata Abdul Mu’ti.
Dalam suratnya, Nasya mengungkapkan rasa bahagianya karena sekolah tempat ia belajar kini telah direnovasi. Kehadiran Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) juga memberikan pengalaman belajar baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
“Terima kasih, Bapak Presiden. Sekolah kami sekarang sudah direnovasi dan kami belajar menggunakan Papan Interaktif Digital. Saya senang sekali bisa belajar bersama teman-teman,” tulis Nasya dalam suratnya.
Bagi Nasya dan teman-temannya, perubahan itu bukan sekadar hadirnya fasilitas baru. Lingkungan belajar yang lebih nyaman membuat mereka semakin bersemangat datang ke sekolah dan merasa memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak di daerah lain.
Meski berisi ucapan terima kasih, surat tersebut juga ditulis dengan kerendahan hati yang menyentuh.
“Mohon maaf, ini bukan bermaksud merepotkan Bapak,” tulisnya.
Kebahagiaan Nasya semakin lengkap dengan hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengaku setiap hari menantikan kedatangan mobil pengantar makanan yang membawa menu bergizi ke sekolahnya.
Menurut Nasya, program tersebut tidak hanya membuat dirinya dan teman-teman dapat menikmati makan siang yang sehat, tetapi juga membantu menghemat uang jajan.
“Setiap hari kami menikmati makanan yang enak. Uang jajan yang biasanya saya gunakan untuk membeli makan siang sekarang bisa saya tabung untuk membeli perlengkapan sekolah,” ungkap Nasya.
Di bagian akhir suratnya, Nasya menuliskan janji sederhana yang membuat banyak orang tersentuh. Ia bertekad untuk terus rajin belajar, menghormati guru, dan menyayangi teman-temannya. Tak hanya itu, ia juga menyimpan cita-cita mulia untuk menjadi seorang guru agar suatu hari nanti dapat mengajar anak-anak di kampung halamannya.
Dari sebuah ruang kelas sederhana di Nias Utara, surat kecil karya Nasya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya terlihat dari gedung sekolah yang diperbaiki atau teknologi yang dihadirkan. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut tercermin dari tumbuhnya harapan, kebahagiaan, dan mimpi baru di hati anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota.
Penulis : lazir
Editor : ameri












