JAKARTA – Pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian terus dipercepat pemerintah sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional. Salah satu langkah konkret yang kini digencarkan adalah penggunaan biodiesel pada alat dan mesin pertanian (alsintan), seiring upaya modernisasi pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mengembangkan inovasi teknologi berupa bioreaktor biodiesel hybrid. Teknologi ini dirancang mampu mengolah berbagai bahan baku minyak nabati menjadi biodiesel secara lebih efisien, fleksibel, serta memiliki kontrol kualitas yang lebih baik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan biofuel menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel. Artinya, tahun ini kita tidak impor solar. Ini perintah langsung Presiden,” ujar Mentan Amran.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa percepatan pemanfaatan biodiesel, termasuk melalui program B50, menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Sejalan dengan itu, Kepala BRMP Fadjry Djufry menyampaikan bahwa pengembangan teknologi bioenergi menjadi bagian penting dari hilirisasi inovasi pertanian.
“Kami mendorong pengembangan bioreaktor biodiesel yang mampu menghasilkan bahan bakar secara efisien dengan kualitas yang stabil. Dengan demikian, biodiesel yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pada operasional alat dan mesin pertanian,” ujarnya, Jumat (17/4/2026) di Jakarta.
Sebagai implementasi di lapangan, BRMP melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) telah melakukan uji kinerja alsintan berbahan bakar B50 bekerja sama dengan LEMIGAS pada awal April lalu.
Kepala BRMP Mektan, Arief Rachman, menjelaskan bahwa pengujian dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis penggunaan biodiesel dalam kondisi operasional nyata.
“Pengujian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa alsintan, mulai dari keandalan mesin, efisiensi bahan bakar, hingga stabilitas operasional di lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar dalam pengembangan mekanisasi pertanian berbasis energi alternatif, sejalan dengan dukungan terhadap program B50,” jelasnya.
Pengujian dilakukan pada berbagai jenis alsintan, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, serta pompa air. Selain itu, dilakukan pula pengujian cold-startability guna memastikan mesin tetap dapat beroperasi optimal setelah periode penyimpanan tertentu.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium dan lapangan, biodiesel B50 menunjukkan performa yang relatif stabil. Sejumlah parameter utama, seperti daya mesin, konsumsi bahan bakar, efisiensi kerja, serta kinerja operasional, telah memenuhi standar SNI yang berlaku.
Temuan ini menunjukkan bahwa biodiesel B50 berpotensi digunakan secara luas pada alat dan mesin pertanian tanpa mengganggu performa maupun keandalan operasional.
Melalui pengembangan bioreaktor biodiesel dan pengujian implementatif tersebut, Kementerian Pertanian terus memperkuat integrasi inovasi bioenergi dengan mekanisasi pertanian. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memperkokoh fondasi pertanian modern yang berkelanjutan dalam mendukung keberhasilan program B50 nasional.
Penulis : lazir
Editor : ameri













