JAKARTA – Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memanas sejak akhir Februari 2026 mulai menimbulkan efek domino terhadap sektor energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam, memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk tekanan terhadap pasar domestik Indonesia.
Berdasarkan perkembangan hingga Sabtu (21/3/2026), konflik yang dipicu serangan udara AS–Israel ke sejumlah target di Iran telah mengganggu stabilitas pasokan energi global. Ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—menjadi faktor utama lonjakan harga.
Harga minyak mentah global bahkan sempat menyentuh kisaran USD 119 hingga USD 120 per barel pada awal Maret. Kondisi ini langsung berdampak pada lonjakan harga BBM di berbagai negara.
Data Global Petrol Prices per 19 Maret 2026 mencatat sedikitnya 95 negara mengalami kenaikan harga bensin. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata naik dari US$2,94 menjadi US$3,58 per galon atau meningkat sekitar 20 persen hanya dalam hitungan minggu.
Kenaikan lebih tajam terjadi di sejumlah negara berkembang. Kamboja mencatat lonjakan hingga 68 persen, Vietnam sekitar 50 persen, Nigeria 35 persen, Laos 33 persen, dan Kanada 28 persen.
Di kawasan Asia, dampak terasa signifikan karena tingginya ketergantungan impor energi dari Timur Tengah. Jepang dan Korea Selatan termasuk negara paling rentan, masing-masing mengimpor sekitar 95 persen dan 70 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk.
Sejumlah negara bahkan mulai mengambil langkah ekstrem. Bangladesh menutup seluruh universitas untuk menghemat energi, sementara Pakistan menerapkan sistem kerja empat hari dan kebijakan work from home hingga 50 persen guna menekan konsumsi BBM.
Ekonom David McWilliams menilai lonjakan harga energi sangat berkaitan erat dengan sektor transportasi dan rantai pasok global.
“Napas kehidupan ekonomi global adalah transportasi. Ini tentang mengangkut barang dari A ke B. Ini masalah logistik dan rantai pasokan, dan pada akhirnya transportasi adalah energi ekonomi global,” ujarnya.
Ia memperingatkan, jika tren ini berlanjut, dunia berpotensi menghadapi stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat—seperti yang pernah terjadi pada krisis minyak tahun 1973, 1978, dan 2008.
Stok BBM Nasional Aman, Pemerintah Waspada Dampak Lanjutan
Di tengah gejolak global tersebut, pemerintah Indonesia memastikan kondisi pasokan energi nasional masih terkendali. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan stok BBM dalam kondisi aman.
“Stok BBM nasional saat ini berada pada kisaran 20 hingga 26 hari per awal Maret dan terus diperkuat hingga mencapai sekitar 30 hari. Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM,” demikian penegasan pemerintah.
Meski demikian, pemerintah tetap mengantisipasi dampak lanjutan dari lonjakan harga minyak dunia, terutama terhadap BBM nonsubsidi yang lebih sensitif terhadap fluktuasi pasar global.
Harga BBM Dalam Negeri Ikut Terkerek
Seiring kenaikan harga minyak dunia, PT Pertamina (Persero) telah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejak 1 Maret 2026.
Untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan NTB, harga Pertamax naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800. Pertamax Turbo menjadi Rp13.100 per liter, Pertamax Green 95 Rp12.900 per liter, Dexlite Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap stabil, dengan Pertalite di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Adapun rincian harga BBM di sejumlah wilayah per 21 Maret 2026 antara lain:
Aceh dan Sumatra Utara
- Pertalite: Rp10.000/liter
- Pertamax: Rp12.600/liter
- Pertamax Turbo: Rp13.350/liter
- Dexlite: Rp14.500/liter
- Pertamina Dex: Rp14.800/liter
- Solar: Rp6.800/liter
Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau
- Pertalite: Rp10.000/liter
- Pertamax: Rp12.900/liter
- Pertamax Turbo: Rp13.650/liter
- Dexlite: Rp14.800/liter
- Pertamina Dex: Rp15.100/liter
- Solar: Rp6.800/liter
FTZ Batam
- Pertalite: Rp10.000/liter
- Pertamax: Rp11.750/liter
- Pertamax Turbo: Rp12.400/liter
- Dexlite: Rp13.450/liter
- Pertamina Dex: Rp13.800/liter
- Solar: Rp6.800/liter
FTZ Sabang
- Pertalite: Rp10.000/liter
- Pertamax: Rp11.550/liter
- Dexlite: Rp13.250/liter
- Solar: Rp6.800/liter
Dampak ke Pangan dan Ekonomi Global
Lonjakan harga energi juga merembet ke sektor lain, termasuk pangan. Biaya produksi pupuk, distribusi logistik, hingga harga bahan pokok ikut terdorong naik.
Minyak dan gas tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar, tetapi juga bahan baku berbagai produk seperti plastik, tekstil sintetis, hingga kosmetik. Sementara gas alam berperan penting dalam produksi pupuk yang menopang ketahanan pangan global.
Dengan tekanan yang terus meningkat, banyak negara kini bersiap menghadapi potensi lonjakan harga lanjutan pada April 2026, seiring penyesuaian harga energi di pasar global.
Pemerintah Indonesia pun menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas energi nasional serta melindungi daya beli masyarakat, khususnya menjelang dan selama momentum Idulfitri 1447 Hijriah.
Penulis : lazir
Editor : ameri






