JAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitut Tholibin di kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, ketika ratusan peserta mengikuti bedah buku “35 Kisah Saat Maut Menjemput” karya Ustadz Abdul Somad, Jumat (27/2/2026).
Kegiatan yang sarat nuansa refleksi spiritual itu menjadi istimewa karena dihadiri langsung oleh tiga menteri—Abdul Mu’ti, Fadli Zon, dan Brian Yuliarto—yang bersama-sama mengajak peserta merenungi makna hidup, kepemimpinan, dan kepastian kematian.
Dalam sambutan pembuka, Abdul Mu’ti mengajak hadirin menempatkan kesadaran akan kematian sebagai kompas dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kepastian akhir hidup semestinya mendorong setiap orang menata niat, memperbanyak amal, dan menjalankan tanggung jawab dengan penuh integritas.
“Semua kita akan mati. Yang perlu dipikirkan bukan kapan waktunya, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri sejak awal kehidupan dengan amal yang baik,” ujarnya.
Ia kemudian menyoroti sejumlah kisah dalam buku yang menggambarkan keteladanan para tokoh dalam sejarah Islam. Dari dinamika kepemimpinan hingga ujian berat yang dihadapi, kisah-kisah tersebut dinilai memberi pelajaran tentang kebijaksanaan, kerendahan hati, serta tanggung jawab moral seorang pemimpin terhadap umatnya.
Abdul Mu’ti juga menyinggung figur panglima besar yang dikenal tak terkalahkan di medan perang namun tetap menunjukkan sikap tawadhu ketika digantikan oleh pemimpin yang lebih muda. Baginya, keteladanan itu menegaskan bahwa keagungan seseorang tidak terletak pada kemenangan duniawi, melainkan pada kesadaran diri sebagai hamba yang kelak mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.
Pada kesempatan yang sama, Fadli Zon menekankan bahwa buku tersebut berfungsi sebagai pengingat yang kuat tentang keterbatasan manusia. Ia menyebut kesadaran akan kematian bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk menumbuhkan kebijaksanaan dalam memanfaatkan waktu.
“Maut adalah sesuatu yang pasti. Waktunya tidak bisa dipercepat dan tidak bisa diperlambat. Karena itu, hidup harus dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya ketika beberapa kali berada dalam kondisi kritis yang membuatnya semakin memahami nilai kehidupan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa setiap kesempatan hidup adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
“Kesempatan hidup yang masih kita rasakan hari ini adalah hadiah. Anugerah itu harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat,” tuturnya.
Sementara itu, Brian Yuliarto menilai tema kematian yang diangkat dalam kegiatan tersebut relevan sebagai momentum introspeksi, terlebih dalam suasana Ramadan yang sarat nilai spiritual. Ia mengajak peserta menjadikan kesadaran akan akhir kehidupan sebagai dorongan untuk memperbaiki sikap, memperhalus akhlak, dan menumbuhkan kepekaan sosial.
Menurutnya, jabatan, pangkat, dan capaian duniawi hanyalah titipan yang tidak akan menyertai manusia saat kembali kepada Sang Pencipta.
“Semoga pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini melembutkan hati kita, memperbaiki sikap kita, dan menjadikan kita pribadi yang lebih bijaksana dalam menjalankan amanah,” ujarnya menutup sambutan.
Kegiatan bedah buku berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemaparan isi buku, tetapi juga diajak merenungkan makna kehidupan, tanggung jawab moral, serta pentingnya mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan dengan amal terbaik.
Penulis : lazir
Editor : ameri













