Terima Kasih Muadzin: Saat PBNU Menghadirkan Apresiasi untuk Penjaga Suara Langit Nusantara

- Penulis

Selasa, 30 Desember 2025 - 18:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Setiap hari, lima kali, suara itu menggema. Kadang lantang, kadang lirih. Kadang dari masjid megah di pusat kota, kadang dari musala kecil di pelosok desa. Dialah suara adzan—penanda waktu, pengingat iman, dan denyut spiritual umat Islam. Namun, di balik suara suci itu, ada sosok yang kerap luput dari sorotan: muadzin.
Menyadari jasa besar yang sering terdiam, Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) meluncurkan program nasional bertajuk “Terima Kasih Muadzin”. Sebuah gerakan apresiasi yang tulus dan bermakna bagi para muadzin masjid dan musala di seluruh Indonesia.
Program ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah ungkapan hormat atas dedikasi panjang para muadzin yang setia menjaga syiar adzan—bahkan ketika hujan turun, tubuh lelah, atau dunia berubah semakin cepat.
LTM PBNU menegaskan, muadzin bukan hanya pengumandang panggilan shalat. Mereka adalah penjaga ritme ibadah umat, penentu kedisiplinan waktu, sekaligus pencipta suasana spiritual yang menenangkan hati masyarakat. Dari suara merekalah, kehidupan beragama menemukan iramanya.
Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup serba instan, peran muadzin sering kali terpinggirkan. Padahal, adzan bukan hanya panggilan ritual, melainkan simbol kehadiran Islam di ruang publik—penanda bahwa nilai-nilai keimanan masih hidup dan berdenyut.
Karena itulah, LTM PBNU memandang muadzin sebagai bagian inti dari ekosistem kemasjidan. Mereka adalah penghubung antar generasi, penjaga tradisi, dan saksi bisu perjalanan ibadah umat dari masa ke masa.
Melalui program “Terima Kasih Muadzin”, PBNU ingin memastikan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa pengabdian para muadzin tidak sendirian, tidak dilupakan, dan layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya.
Tiga Kategori Muadzin Nasional
Program ini juga dirancang dengan sejumlah kategori muadzin nasional sebagai bentuk pengakuan atas ragam pengabdian dan keteladanan yang hadir dari berbagai penjuru Nusantara.

Penulis : guntar

Editor : gunawan tarigan

Berita Terkait

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi
Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret
Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”
Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial
Dai 3T Bergerak: Penguatan Iman dan Nasionalisme dari Pinggiran Indonesia
Dari Hisab ke Rukyat, Gen Z Dalami Ilmu Penentuan Awal Ramadan
Kemenag Salurkan Rp596 Juta, Pulihkan Madrasah dan Guru Korban Banjir–Longsor Bandung Barat

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 04:39 WIB

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:39 WIB

Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret

Sabtu, 28 Februari 2026 - 21:34 WIB

Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:12 WIB

Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:14 WIB

Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru