Tarif Murah Rp 5.000, Trans Banjarbakula Sukses Alihkan Warga dari Kendaraan Pribadi

- Penulis

Jumat, 14 November 2025 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bus Trans Banjarbakula (dok. rentak.id)

Bus Trans Banjarbakula (dok. rentak.id)

JAKARTA – Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah MTI Pusat, Djoko Setijowarno, menegaskan pentingnya mempertahankan layanan Trans Banjarbakula sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat di Kalimantan Selatan.

Menurutnya, layanan yang ekonomis dan nyaman ini terbukti memudahkan perpindahan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

“Layanan Trans Banjarbakula yang ekonomis, mudah, aman dan nyaman sudah semestinya dipertahankan untuk memuluskan peralihan orang dari kendaraan pribadi ke moda transportasi umum,” ujar Djoko, Jumat (14/11/2025).

Kawasan Banjarbakula kini berkembang menjadi pusat aktivitas dinamis di Kalimantan Selatan. Dari Banjarmasin sebagai kota seribu sungai hingga daerah penyangga di sekitarnya, kebutuhan mobilitas meningkat pesat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi.

Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut, dengan total luas 1,28 juta hektare dan populasi 2,23 juta jiwa (2024).

Untuk menjawab tantangan mobilitas tersebut, sejak 2021 Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Darat mulai menata angkutan umum perkotaan lewat program Buy The Service (BTS).

Salah satu daya tarik utama Trans Banjarbakula adalah tarifnya yang sangat terjangkau. Bila sebelumnya masyarakat harus merogoh Rp 15.000–25.000 untuk angkutan umum tanpa AC, kini mereka cukup membayar Rp 5.000 untuk layanan berpendingin.

Djoko menegaskan, “Tarif angkutan umum biasanya Rp 25 ribu, sekarang hanya Rp 5 ribu. Ini sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah untuk bermobilitas antar kota.”

Pelajar dan mahasiswa bahkan mendapat tarif khusus Rp 2.000.

Saat ini Trans Banjarbakula mengoperasikan 75 armada dengan empat koridor utama yang menjangkau rute hingga Pelaihari, Martapura, dan Anjir Muara. Jarak tempuh terjauh mencapai 85,25 km.

Integrasi Layanan & Dampak Positif bagi Warga

Trans Banjarbakula telah menghubungkan berbagai simpul penting seperti Terminal Gambut Barakat, Terminal Km 6 Banjarmasin, Terminal Sumarsono Pelaihari, Terminal Banjarbaru, hingga Taman Siring Km 0 yang terhubung dengan angkutan sungai.

Keberadaannya berhasil meningkatkan mobilitas, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan berdampak positif terhadap penurunan kemacetan serta polusi.

Setelah dua tahun berjalan dengan dukungan Kemenhub, pada Mei 2024 Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan resmi mengambil alih pengelolaan Trans Banjarbakula. Langkah ini menjadi bukti komitmen daerah untuk menghadirkan layanan transportasi publik sesuai amanat UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Komitmen ini juga selaras dengan janji kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih 2024–2029, H. Muhidin – Hasnuryadi Sulaiman, yang mendorong peningkatan akses transportasi publik hingga ke daerah pelosok.

Sharing Pembiayaan dan Kemandirian Operasional 2025

Biaya operasional Trans Banjarbakula dibagi berdasarkan panjang lintasan di tiap wilayah. Dari total lintasan 162,7 km, kontribusi daerah meliputi:

Kota Banjarbaru – 46,95 km (29%)

Kabupaten Banjar – 40,85 km (25%)

Kota Banjarmasin – 33,32 km (20%)

Kabupaten Tanah Laut – 24,35 km (15%)

Kabupaten Barito Kuala – 17,24 km (11%)

Total subsidi tahun 2025 mencapai Rp 70 miliar, dengan Pemprov Kalsel menanggung porsi terbesar, yakni 51%.

Mulai 1 Mei 2025, operasional sepenuhnya mandiri di bawah Pemprov Kalsel, sementara layanan pengumpan (feeder) diserahkan ke kabupaten/kota melalui angkutan Trans Banjarbaru Juara, Trans Banjarmasin, Trans Intan Banjar, dan Lakatan Tanah Laut.

Sebelum BTS: Kondisi Angkutan Umum Memprihatinkan

Dinas Perhubungan Kalsel mencatat banyak persoalan angkutan kota sebelum Trans Banjarbakula hadir, di antaranya:

Operasional tidak terjadwal

Bus tua tanpa AC

Berebut penumpang karena rute tumpang tindih

Sopir tidak memiliki standar kesejahteraan

Naik turun penumpang sembarangan sehingga memicu kemacetan

Inflasi tinggi karena biaya transportasi mahal

Kondisi serupa juga terjadi pada layanan feeder sebelum sistem BTS berjalan.

Perluasan Tempat Perhentian dan Edukasi Pembayaran Non-Tunai

Meski dinilai sukses, Trans Banjarbakula masih membutuhkan penambahan halte, serta sosialisasi mengenai sistem pembayaran non-tunai. Banyak penumpang masih mengira pembayaran bisa dilakukan tunai, padahal seluruh transaksi menggunakan e-money atau QRIS.

Kebijakan cashless dibuat untuk meningkatkan efisiensi operasional dan transparansi.

Jadi Inspirasi untuk Daerah Lain di Kalsel

Keberhasilan Trans Banjarbakula telah mendorong pembentukan layanan transportasi aglomerasi di klaster lain, seperti:

Klaster Banua Anam (Tabalong, Balangan, HST, HSU, HSS, Tapin)

Klaster Saijaan Sujud (Tanah Bumbu, Kotabaru)

Beberapa layanan bahkan sudah beroperasi, seperti Trans Sanggam di Kabupaten Balangan dan Trans Langsat Manis di Tabalong.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Kemacetan Bandung Raya Makin Parah, MTI Soroti Lemahnya Integrasi Transportasi Umum
Penutupan Perlintasan Sebidang Jabodetabek Dinilai Perlu Solusi Matang, Ini Dampaknya bagi Warga
Djoko Setijowarno: Subsidi Mobil Listrik Sebaiknya Diprioritaskan untuk Daerah Sulit BBM
Tragedi Bus ALS di Musi Rawas Jadi Alarm Darurat Keselamatan Transportasi Indonesia
Solusi Ojol Menurut Akademisi: Kurangi Driver Secara Bertahap, Bukan Tambah Regulasi
KAI Daop 1: Pasang Palang Pintu Sementara di Perlintasan JPL 86 Bekasi Timur demi Keselematan
Tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi, DPR Minta Perbaikan Sistem Keselamatan Kereta
Usai Dugaan Kecelakaan Kereta, Kemenhub Sidak Pool Green SM Bekasi

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:13 WIB

Kemacetan Bandung Raya Makin Parah, MTI Soroti Lemahnya Integrasi Transportasi Umum

Senin, 18 Mei 2026 - 07:54 WIB

Penutupan Perlintasan Sebidang Jabodetabek Dinilai Perlu Solusi Matang, Ini Dampaknya bagi Warga

Jumat, 15 Mei 2026 - 07:56 WIB

Djoko Setijowarno: Subsidi Mobil Listrik Sebaiknya Diprioritaskan untuk Daerah Sulit BBM

Senin, 11 Mei 2026 - 06:27 WIB

Tragedi Bus ALS di Musi Rawas Jadi Alarm Darurat Keselamatan Transportasi Indonesia

Selasa, 5 Mei 2026 - 07:53 WIB

Solusi Ojol Menurut Akademisi: Kurangi Driver Secara Bertahap, Bukan Tambah Regulasi

Berita Terbaru