BOGOR – Peluang ekspor produk kelapa Indonesia kembali terbuka lebar, kali ini menuju dua pasar non-tradisional yang menjanjikan: Afrika dan Amerika Latin.
Dalam forum bisnis internasional bertajuk “Pasar Baru, Peluang Baru: Strategi Ekspor ke Pasar Non-Tradisional” yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI di Science Techno Park IPB Bogor, 3 Juni 2025 lalu, sejumlah UKM nasional berhasil mencatatkan kesepakatan awal ekspor dengan mitra luar negeri.
Salah satunya adalah penandatanganan Letter of Intent (LoI) oleh Pyramid Construction, perusahaan properti asal Gabon, dengan dua pelaku UKM Indonesia. Saung Kalapa Pangandaran akan memasok 200 unit produk home décor berbahan kelapa, sedangkan Minahasa House menyuplai parket kayu kelapa untuk hotel dan apartemen milik Pyramid di dua kota besar Gabon: Libreville dan Port Gentil.
“Produk mebel dan dekorasi dari kayu kelapa memiliki daya tarik unik, terutama dari motif sulur alaminya yang tidak dimiliki kayu keras lokal Afrika,” kata perwakilan Pyramid Construction. Mereka menilai keunikan tersebut mampu memperkaya tampilan interior properti premium di Gabon.
Sementara dari Amerika Latin, sinyal positif datang dari Mercosur ASEAN Chamber of Commerce di Argentina. Kamar dagang ini menyatakan minat untuk menggali potensi kerja sama dengan Tococo Indonesia, UKM asal Banyumas yang memproduksi camilan sehat dan minyak kelapa. Minat ini sejalan dengan tren gaya hidup sehat yang tengah berkembang pesat di kawasan Amerika Selatan.
“Pasar Amerika Latin sangat terbuka untuk produk sehat berbasis kelapa. Kami melihat peluang besar untuk minyak kelapa dan camilan dari Indonesia,” ujar perwakilan Mercosur ASEAN COC.
Seminar hybrid yang diikuti oleh 162 peserta tersebut juga menjadi bagian dari program pendidikan diplomat muda Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) angkatan ke-78. Dalam sambutannya, Duta Besar Semuel Samson menyampaikan bahwa membuka pasar baru bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan juga bentuk kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
“Ekspor produk kelapa bukan hanya soal meningkatkan nilai tambah, tapi juga soal memberdayakan petani dan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan,” tegas Semuel.
Ia menambahkan, dinamika global seperti perang tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini menciptakan ruang baru bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan pasokan dan merebut peluang ekspor di pasar alternatif.
Indonesia sendiri telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045, dengan fokus pada diversifikasi dan inovasi produk turunan. Namun, tantangan seperti rendahnya produktivitas dan belum optimalnya pendapatan petani masih membayangi.
Karena itu, Kemlu RI mendorong agar UKM terus berinovasi dan berani menjelajah pasar internasional. “Dengan akses pasar yang lebih terbuka dan kerja sama lintas sektor, UKM kita punya peluang besar untuk menembus pasar global,” lanjut Semuel.
Langkah Indonesia menembus pasar Afrika dan Amerika Latin juga dinilai strategis secara geografis. Wilayah tropis di Afrika Barat dan Timur, serta negara-negara subtropis di Amerika Selatan, memiliki potensi kelapa yang besar namun belum tergarap maksimal. Di sinilah, menurut Kemlu, kerja sama bisa dikembangkan, baik dalam bentuk investasi, alih teknologi, hingga penguatan rantai pasok berbasis kelapa.
Dengan fondasi ini, Indonesia tak hanya menjadi pengekspor, tetapi juga mitra strategis dalam membangun industri kelapa global yang berkelanjutan.
Penulis : lazir
Editor : ameri













