Penjurusan Kembali ke SMA! Siswa Siap Pilih Jalur, Guru Siap Atur Strategi

- Penulis

Minggu, 13 April 2025 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi jurusan baru di SMA (ilustrasi oleh chatgpt)

Ilustrasi jurusan baru di SMA (ilustrasi oleh chatgpt)

JAKARTA – Pemerintah berencana menerapkan kembali sistem penjurusan di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) mulai tahun ajaran 2025/2026.

Nantinya, siswa kelas XI akan diarahkan memilih jurusan IPA, IPS, atau Bahasa sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Kebijakan ini pun menuai tanggapan dari para guru dan praktisi pendidikan.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rosyidi, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, penjurusan dapat membantu siswa fokus mendalami bidang yang sesuai dengan minat mereka, sehingga menjadi lebih ahli.

“Kalau siswa tidak memiliki dasar ilmu yang kuat, maka mereka akan kesulitan menentukan minatnya. Harapannya, dengan penjurusan, mereka bisa belajar lebih fokus dan mendalami bidangnya. Kalau semua mata pelajaran dipelajari setengah-setengah, siswa justru tidak menguasai apa pun,” ujar Unifah dalam keterangannya, Minggu (13/4/2025).

Pandangan senada disampaikan Heriyanto, praktisi pendidikan yang telah lama memantau pelaksanaan sistem pendidikan di lapangan. Ia menilai bahwa sistem tanpa penjurusan yang selama ini diterapkan kurang berjalan optimal dan menyulitkan siswa dalam menentukan arah karier.

“Ketika siswa harus menentukan profesinya terlalu dini tanpa ada panduan peminatan yang jelas, banyak yang kebingungan. Misalnya, siswa yang awalnya ingin masuk kedokteran memilih tidak belajar fisika, tapi di kelas XII berubah pikiran ingin ke teknik. Akhirnya mereka tidak punya bekal yang cukup karena tidak mengambil mata pelajaran itu sejak awal,” jelas Heri.

Ia juga menyoroti kurangnya sinkronisasi antara jenjang SMA dan perguruan tinggi. Menurutnya, banyak mahasiswa baru yang tetap harus mengikuti mata kuliah umum seperti fisika, kimia, dan biologi, meskipun tidak mengambil jurusan sains.

“PTN masih memberlakukan mata kuliah dasar di tahun pertama, terlepas dari jurusannya. Jadi, kalau siswa sejak SMA sudah tidak mengambil mata pelajaran seperti fisika atau sosiologi, mereka akan kesulitan mengejarnya saat kuliah, apalagi jika berganti minat,” tambahnya.

Guru Geografi SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi, Ignasius Sudaryanto, juga mendukung kebijakan ini. Ia menyampaikan bahwa pemilihan mata pelajaran secara bebas justru menimbulkan kebingungan bagi siswa dan permasalahan teknis bagi sekolah.

“Banyak siswa yang akhirnya salah ambil mata pelajaran karena tidak tahu arahnya. Selain itu, guru pun jadi kesulitan. Ada pelajaran yang sedikit peminatnya sehingga jam mengajar guru berkurang, padahal itu berdampak pada tunjangan sertifikasi. Sementara ada mata pelajaran yang justru kebanjiran siswa,” tutur Sudaryanto.

Ia menegaskan bahwa sistem penjurusan seperti dulu lebih ideal untuk diterapkan kembali. “Saya sangat setuju kalau dikembalikan ke sistem jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Ini akan membuat siswa lebih fokus belajar dan memudahkan sekolah mengelola tenaga pengajarnya,” pungkasnya.

Dengan diberlakukannya kembali sistem penjurusan ini, pemerintah berharap siswa bisa mendapatkan pembelajaran yang lebih terarah dan mendalam sesuai dengan cita-cita dan potensi mereka. Sosialisasi dan persiapan sistem pun akan dilakukan agar implementasinya berjalan lancar di tahun ajaran mendatang. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Kunjungi Rumah Mahasiswa Unram, Lalu Hadrian Ungkap Pentingnya KIP Kuliah
SMA Unggul Garuda Jangkau 51 Titik, Penerimaan Siswa Baru 2027/2028 Disosialisasikan
Orang Tua Siswa Buka Suara, Hetifah Soroti Keamanan Asrama Sekolah Rakyat Samarinda
Lantik 162 Pejabat Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti Tekankan Birokrasi yang Melayani
Toreh Sejarah Baru, Pramuka MA Khomsani Nur Lumajang Gelar Pelantikan Perdana
Dulu Bocor dan Rusak, Kini SDN Cirimekar 02 Bogor Punya Ruang Kelas Lebih Nyaman
FSGI Catat 100 Kasus Kekerasan di Sekolah, Korban Capai 1.000 Orang
TKA 2026 Ditutup, 4,2 Juta Siswa Sudah Mendaftar

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Kunjungi Rumah Mahasiswa Unram, Lalu Hadrian Ungkap Pentingnya KIP Kuliah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:44 WIB

SMA Unggul Garuda Jangkau 51 Titik, Penerimaan Siswa Baru 2027/2028 Disosialisasikan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:08 WIB

Orang Tua Siswa Buka Suara, Hetifah Soroti Keamanan Asrama Sekolah Rakyat Samarinda

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:32 WIB

Lantik 162 Pejabat Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti Tekankan Birokrasi yang Melayani

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Toreh Sejarah Baru, Pramuka MA Khomsani Nur Lumajang Gelar Pelantikan Perdana

Berita Terbaru