Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom INDEF: Risiko Krisis Jika Pemerintah Tak Bertindak Cepat!

- Penulis

Minggu, 6 April 2025 - 19:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Rupiah kian melemah atas dolar AS (ilustrasi ai)

Ilustrasi Rupiah kian melemah atas dolar AS (ilustrasi ai)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan. Hingga awal April 2025, rupiah nyaris menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Menanggapi situasi ini, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Sugiono, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah ini merupakan sinyal memburuknya kondisi perekonomian nasional.

“Rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS menunjukkan depresiasi signifikan. Ini cerminan dari melemahnya kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi Indonesia,” ujar Sugiono  saat dihubungi  Minggu (6/4/2025).

Tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin diperburuk dengan dua kali penghentian sementara perdagangan (trading halt) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, imbas dari arus keluar dana asing (capital outflows) yang masif.

Menurut Sugiono, arus keluar dana asing ini bukan hanya melemahkan nilai tukar rupiah, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi jangka pendek. Ia memprediksi kondisi ini bisa terus memburuk bila pemerintah belum mampu meyakinkan publik dan pelaku pasar mengenai ketahanan sistem ekonomi dan sektor perbankan nasional.

“Selama pemerintah belum menunjukkan langkah nyata dalam memperkuat fundamental ekonomi, serta menjamin sektor perbankan tetap aman dari risiko seperti net interest margin (NIM) negatif, tekanan ini akan terus berlanjut,” jelasnya.

Kondisi global juga ikut memperkeruh situasi. Kenaikan tarif impor oleh pemerintah AS baru-baru ini berdampak besar pada penguatan dolar, yang turut menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sugiono menambahkan, fenomena keluarnya “hot money” saat masa libur panjang seperti Lebaran bukanlah hal baru. Situasi serupa pernah terjadi pada 1996–1998, saat krisis moneter Asia, serta pada 2008 dan 2010 ketika terjadi gejolak ekonomi global.

Namun, ia menekankan bahwa pemerintah, khususnya tim ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto, perlu bertindak cepat dan konkret untuk mengatasi tekanan ini sebelum berlarut dan menimbulkan kepanikan lebih lanjut di pasar. ***

Penulis : lazir

Editor : gardo

Berita Terkait

Pengamat Kritik Keras Nutri Level Kemenkes: Setengah Hati dan Tak Menyentuh Akar Masalah
BULOG Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil, Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Kisah UMKM Rizkyanti, Dari Usaha Rumahan hingga Masuk Alfamart dan Pasar Ekspor
Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga
Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya
Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali
Cegah Pangan Berbahaya, BPOM Rilis Aturan Baru Cemaran Mikroba
Stok Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino, BULOG Pastikan Ketahanan Pangan Terjaga

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 13:28 WIB

Pengamat Kritik Keras Nutri Level Kemenkes: Setengah Hati dan Tak Menyentuh Akar Masalah

Jumat, 17 April 2026 - 08:13 WIB

Kisah UMKM Rizkyanti, Dari Usaha Rumahan hingga Masuk Alfamart dan Pasar Ekspor

Rabu, 15 April 2026 - 14:27 WIB

Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga

Rabu, 15 April 2026 - 11:08 WIB

Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya

Selasa, 14 April 2026 - 18:59 WIB

Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali

Berita Terbaru