APBN Januari-Februari 2025 Defisit, Penerimaan Pajak Anjlok

- Penulis

Sabtu, 15 Maret 2025 - 15:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anis Byarwati (dok. pribadi)

Anis Byarwati (dok. pribadi)

JAKARTA – Setelah lama dinanti, Kementerian Keuangan akhirnya mengumumkan kinerja APBN hingga Februari 2025.

Biasanya, laporan ini dirilis tak lama setelah satu bulan berakhir. Namun, kali ini ada keterlambatan lebih dari satu bulan dalam penyampaian APBN Januari 2025.

“Keterlambatan ini tentu menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Apa yang sebenarnya terjadi dengan APBN?” ujar Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan, Anis Byarwati, di Jakarta, Sabtu (15/3/2025).

Menurut Anis, keterlambatan ini terjawab dengan data yang menunjukkan kondisi APBN yang kurang baik. “Penerimaan pajak menurun, sementara belanja tetap tinggi. Jika tidak diantisipasi, defisit APBN bisa semakin melebar,” jelasnya.

Penerimaan Negara Menurun

Anis menjelaskan bahwa penerimaan pajak Januari 2025 hanya Rp88,89 triliun, turun 41,86% dibanding tahun sebelumnya. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga turun 3,03% menjadi Rp42,13 triliun.

Namun, ada kabar baik dari sektor kepabeanan dan cukai yang naik 14,75% menjadi Rp26,29 triliun. “Meski ada kenaikan di sektor ini, tetap saja belum cukup untuk menutup penurunan di sektor pajak,” katanya.

Belanja Negara Tetap Tinggi, Defisit Tak Terhindarkan

Di sisi belanja, hingga Januari 2025, pengeluaran pemerintah mencapai Rp86,04 triliun, turun 10,75% dibanding tahun lalu. Meski begitu, jumlah ini masih lebih besar dari pendapatan, menyebabkan APBN mengalami defisit Rp23,5 triliun atau 0,10% dari PDB.

“Ini berbanding terbalik dengan Januari 2024, di mana APBN masih mencatat surplus Rp35,1 triliun,” ungkap Anis.

Pembiayaan APBN Naik, Pemerintah Diminta Waspada

Defisit ini menyebabkan pembiayaan APBN melonjak. “Pada Januari 2025, pembiayaan anggaran mencapai Rp154 triliun, naik 43,5% dibanding Januari 2024 yang hanya Rp107,3 triliun,” jelasnya.

Anis juga menyoroti penurunan keseimbangan primer APBN yang hanya Rp10,61 triliun, turun drastis 83,7% dibanding tahun sebelumnya.

Ia mengingatkan pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan ekonomi. “Beberapa kebijakan seperti Coretax dan PPN diduga mempengaruhi penerimaan negara. Kementerian Keuangan harus lebih waspada agar kondisi APBN tidak semakin memburuk,” tutupnya. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

BULOG Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil, Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Kisah UMKM Rizkyanti, Dari Usaha Rumahan hingga Masuk Alfamart dan Pasar Ekspor
Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga
Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya
Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali
Cegah Pangan Berbahaya, BPOM Rilis Aturan Baru Cemaran Mikroba
Stok Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino, BULOG Pastikan Ketahanan Pangan Terjaga
BULOG Genjot Bantuan Pangan di Lombok Utara, Puluhan Ribu Warga Jadi Sasaran

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 18:42 WIB

BULOG Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil, Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying

Jumat, 17 April 2026 - 08:13 WIB

Kisah UMKM Rizkyanti, Dari Usaha Rumahan hingga Masuk Alfamart dan Pasar Ekspor

Rabu, 15 April 2026 - 14:27 WIB

Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga

Rabu, 15 April 2026 - 11:08 WIB

Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya

Selasa, 14 April 2026 - 18:59 WIB

Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali

Berita Terbaru