Mengenang Wage Rudolf Supratman, Kementerian Budaya Luncurkan Piringan Hitam Indonesia Raya

- Penulis

Minggu, 9 Maret 2025 - 17:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kebudayaan Fadli Zon.saat.memaparkan Hari Musik Nasional. (dok. rentak.id)

Menteri Kebudayaan Fadli Zon.saat.memaparkan Hari Musik Nasional. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya Hari Musik Nasional sebagai momen refleksi atas perjalanan musik di Indonesia.

Penetapan Hari Musik Nasional, yang jatuh pada 9 Maret, diusulkan oleh Persatuan Artis-Penyanyi, Pencipta, dan Rekaman Musik Indonesia (PAPRI) pada 2013.

“Tanggal ini dipilih untuk menghormati Wage Rudolf Supratman, pahlawan nasional yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Beliau lahir pada 9 Maret 1903 dan wafat pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka,” ujar Fadli Zon dalam peringatan Hari Musik Nasional 2025 di Gedung Insan Pendidikan Nasional, Jakarta, Minggu (9/3/2025).

Sebagai bentuk penghormatan dan refleksi terhadap perjalanan lagu kebangsaan, Kementerian Budaya meluncurkan piringan hitam Indonesia Raya dalam delapan versi berbeda.

Fadli Zon menjelaskan bahwa Indonesia Raya telah mengalami berbagai transformasi sejak pertama kali diperkenalkan.

“Untuk aransemen yang digunakan secara nasional dan resmi adalah versi satu stanza. Memang, dulu ada versi tiga stanza, tetapi setelah ada keputusan Presiden tahun 1958, lagu kebangsaan kita ditetapkan hanya satu stanza,” katanya.

Ia pun menambahkan dengan nada bercanda, “Bayangkan kalau kebanyakan stanza, pasti panjang sekali. Saya kira bapak-bapak dan ibu-ibu di sini juga tidak ada yang hafal tiga stanza. Jadi, keputusan untuk menetapkan satu stanza itu sangat bijak.”

Peringatan Hari Musik Nasional tahun ini diharapkan dapat memperkuat pemaknaan terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan perjalanan musik nasional. ***

Penulis : amanda az

Editor : ameri

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru