SENJA merayap perlahan di atas pasar yang mulai lengang. Bau rempah, gorengan, dan asap arang bercampur dengan desir angin sore. Di antara riuh pedagang yang menata sisa dagangan, mataku menangkap sosok seorang ibu—wajahnya berseri, senyumnya lebar, meski tubuhnya tampak lelah.
Di tangannya, ia menggenggam erat setengah kilogram singkong—singkong dari Lampung, sebesar paha bayi. Hanya itu yang ia bawa pulang untuk berbuka bersama keempat anaknya. Namun, anehnya, tidak ada kesedihan di wajahnya. Tidak ada resah di matanya. Justru ada kebahagiaan yang meluap, seolah singkong di tangannya adalah hidangan paling mewah di dunia.
Aku tidak tahu apakah singkong itu akan diolah menjadi kolak manis atau digoreng sebagai pengganti risol dan bakwan. Yang kutahu, ibu itu bahagia. Dan kebahagiaan itu tulus, sederhana, tidak dibuat-buat.
Orang-orang yang melihatnya sempat tertegun. Betapa kontrasnya—di sudut lain pasar, ada mereka yang duduk di depan meja penuh hidangan mahal, tetapi wajah-wajah mereka tampak kosong, seperti patung tanpa jiwa. Kekayaan tak selalu menghadirkan kebahagiaan, dan kemiskinan tak selalu membawa kesedihan.
Malam itu, di rumah kecil ibu itu, mungkin anak-anaknya akan menyambutnya dengan riang, mencium tangannya, lalu menikmati singkong sederhana dengan penuh rasa syukur. Dan di rumah-rumah mewah yang lain, meja-meja panjang penuh makanan bisa jadi hanya menyisakan sunyi. ***
Penulis: regardo sipiroko













