JAKARTA – Program magang sering disebut sebagai langkah awal menuju dunia kerja yang lebih profesional. Namun, muncul perdebatan mengenai magang tanpa gaji—apakah ini kesempatan emas untuk menimba ilmu atau justru bentuk eksploitasi terhadap tenaga muda?
Di Indonesia, praktik magang tanpa gaji bukanlah hal baru. Banyak perusahaan menawarkan kesempatan magang dengan imbalan pengalaman dan sertifikat, tetapi tanpa kompensasi finansial. Bagi sebagian mahasiswa, ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk karier mereka. Namun, tidak sedikit yang menilai bahwa sistem ini tidak adil dan hanya memanfaatkan tenaga kerja muda secara gratis.
Rektor Universitas Nusa Mandiri (UNM) Jakarta, Prof. Dr. Dwiza Riana, menegaskan bahwa pihaknya memastikan program magang yang ditawarkan benar-benar bermanfaat bagi mahasiswa, baik dari sisi pengalaman maupun pembelajaran.
“Kami memahami kekhawatiran mengenai magang tanpa gaji. Namun, dalam Internship Experience Program (IEP) atau skema 3+1 (tiga tahun kuliah dan satu tahun magang), fokus utama kami adalah nilai edukasi dan pengembangan keterampilan. Mahasiswa tidak hanya bekerja, tetapi juga mendapatkan pembimbingan, pelatihan, dan sertifikat untuk meningkatkan daya saing mereka di dunia kerja,” ujar Prof. Dwiza dalam keterangan resmi, Ahad (16/2/2025).
Ia juga menegaskan bahwa pihak universitas telah menjalin kerja sama dengan perusahaan yang memiliki reputasi baik, sehingga mahasiswa tidak hanya dijadikan tenaga kerja gratis, tetapi benar-benar mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berharga.
“Magang adalah kesempatan emas bagi mahasiswa untuk membangun relasi profesional, mengasah keterampilan, dan memahami dunia industri secara langsung. Banyak mahasiswa yang akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan berkat pengalaman magang ini,” pungkasnya. (RKL)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka






