JAKARTA – Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan kembali marak dilakukan masyarakat. Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang biasanya lengang, kini dipenuhi oleh peziarah yang datang untuk mendoakan keluarga mereka yang telah berpulang.
Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Sunardi (55), warga Cikande, Serang, Banten, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh panggul. Menjelang puasa dan saat Lebaran, ia beralih profesi menjadi penyedia jasa doa kubur di TPU Karet Bivak, Jakarta.
“Memang banyak pendatang dari daerah lain. Ada yang dari Bogor, Pandeglang, Banten juga. Biasanya ini kerja musiman, ya pas mau puasa, terus habis Lebaran juga masih ada yang cari jasa doa,” ujar Sunardi saat ditemui di TPU Karet Bivak, Sabtu (22/2/2025).
Dengan mengenakan baju koko, sarung, peci, dan serban yang disampirkan di lehernya, Sunardi menawarkan jasa pembacaan doa kepada para peziarah. Ia mengaku sudah berada di TPU tersebut sejak pertengahan bulan Syaban untuk memberikan layanan ini.
“Biasanya saya bacakan doa tawasul untuk ahli kubur. Tidak ada permintaan khusus dari peziarah,” jelasnya.
Sunardi menegaskan bahwa dirinya tidak mematok tarif untuk jasa yang diberikan.
“Ya, kalau soal balasannya seikhlasnya saja. Ada yang memberi kecil, ada yang besar, tergantung orangnya. Nggak ada harga tetap,” katanya.
Selain Sunardi, ada juga Cecep (73), yang telah menawarkan jasa doa sejak tahun 2010. Sebelumnya, ia bekerja di percetakan di daerah Senen, Jakarta Pusat, tetapi karena usia yang semakin lanjut, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Sempat menganggur, akhirnya ia mengikuti saran keluarga untuk mencoba pekerjaan sebagai pembaca doa di pemakaman.
“Awalnya saya cuma bisa mengaji. Lama-lama belajar dari yang lebih paham agama, akhirnya jadi kebiasaan. Sekarang setiap hari saya di sini,” ungkap Cecep.
Namun, profesi ini juga memiliki tantangannya sendiri.
“Dulu sebelum pandemi, peziarah yang mencari orang untuk memimpin doa. Sekarang malah sebaliknya, kita yang harus menawarkan jasa ke peziarah,” katanya. “Kadang-kadang bisa sampai tiga atau empat hari nggak ada yang manggil buat baca doa. Ada juga yang mengejek atau mentertawakan kami, tapi ya kami ikhlas saja, lillahi ta’ala,” tambahnya.
Penghasilan dari jasa ini juga tidak menentu.
“Kalau pas Lebaran, hari pertama sampai ketiga biasanya ramai. Hari pertama saya pernah dapat dua juta rupiah, hari kedua sekitar satu juta seratus ribu, dan hari ketiga sekitar enam ratus lima puluh ribu rupiah. Semoga saja terus bertambah,” ujarnya.
Salah satu peziarah, Nisa (37), mengaku merasa terbantu dengan adanya jasa doa ini.
“Saya kan nggak begitu paham baca doa. Kalau ada yang mimpin, jadi lebih enak. Kadang juga bacaannya saya kurang fasih,” katanya.
Namun, ada juga yang memilih untuk berdoa sendiri. Wulan (60), misalnya, lebih suka membaca doa tanpa bantuan.
“Nggak perlu pakai jasa doa, saya bisa baca sendiri. Kalau lupa, tinggal buka buku Yasin saja,” ujarnya.
Tradisi ziarah menjelang Ramadan ini terus berlangsung dari tahun ke tahun, dengan berbagai cara yang dilakukan peziarah dalam mendoakan keluarga mereka yang telah tiada. (RKL)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka






