Wamentan Sudaryono Kunjungi BBPOPT Karawang, Ungkap Strategi Pengendalian Hama Tanpa Pestisida

- Penulis

Jumat, 16 Mei 2025 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wamentan Sudaryono bersama Pimpinan dan Staf Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Karawang. (dok. rentak.id)

Wamentan Sudaryono bersama Pimpinan dan Staf Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Karawang. (dok. rentak.id)

KARAWANG – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengunjungi Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/5/2025).

Dalam kunjungannya, Sudaryono menyebut peran BBPOPT sangat vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan menyamakan fungsinya dengan “Satria Gajah Hitam”, pahlawan tanpa tanda jasa yang berperang dalam diam melawan musuh bernama hama.

“Ini semacam Satria Gajah Hitam, pembasmi kejahatan. Kejahatannya ya hama pertanian. Mereka bekerja diam-diam, tapi sangat berjasa,” ujar Sudaryono.

BBPOPT merupakan satu-satunya balai besar di Indonesia yang bertugas meramalkan serta mengendalikan potensi serangan hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan ini bisa mengancam tanaman pangan seperti padi, jagung, bahkan buah-buahan.

Sudaryono menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan BBPOPT berbasis pada pola, bukan tebakan acak.

“Peramalan itu bukan lempar dadu. Tapi berdasarkan pola kemunculan hama dari tahun ke tahun. Kalau muncul hama yang tak sesuai pola, itu harus segera diteliti, apakah hama baru atau hasil mutasi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini dan pencegahan hama sebelum berkembang biak secara masif. Menurutnya, penggunaan pestisida justru menjadi pilihan terakhir karena selain mahal, juga berdampak buruk terhadap lingkungan.

“Pestisida itu racun. Kalau bisa dicegah tanpa itu, lebih baik. Prinsipnya, mencegah lebih murah dan lebih aman daripada mengobati,” tegasnya.

Dalam dialognya dengan petugas BBPOPT, Sudaryono memberi contoh konkret soal hama tikus. Ia menekankan pentingnya pembasmian di fase awal karena pertumbuhan populasi tikus sangat cepat.

“Dari empat pasang tikus, bisa jadi 900 dalam tiga bulan. Kalau sudah banyak, habis sudah. Makanya harus dibasmi saat pertama terlihat,” katanya.

Ia juga menyarankan agar pola tanam dilakukan serempak antarpetani untuk mencegah lahan menjadi tempat ‘penggemukan’ tikus.

Meskipun hanya ada satu BBPOPT secara nasional, Sudaryono menyebut petugas pengamat hama tersebar di berbagai desa. Satu petugas BBPOPT bisa membawahi hingga lima desa.

“Memang jumlahnya belum ideal, tapi mereka luar biasa. Mereka inilah yang dikenal petani, bukan pejabat dinas. Mereka yang turun langsung, mengamati, mengidentifikasi, dan memberi solusi,” ungkapnya.

Ia juga mendorong optimalisasi teknologi dalam pelaporan gangguan tanaman. Kini, petani bisa cukup mengirimkan foto atau video lewat aplikasi pesan seperti WhatsApp untuk dilanjutkan ke analis pusat.

“Sekarang nggak perlu bawa contoh fisik lagi. Cukup difoto, dikirim. Petugas bisa langsung menilai dan merespons,” ujarnya.

Wamentan menekankan pentingnya edukasi pertanian dengan pendekatan yang lebih sistematis. Salah satu prinsip yang terus digaungkan Kementerian Pertanian adalah “6T”: Tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat cara, dan tepat mutu.

“Ini kerja teknis, sangat detail. Kita harus transformasi, dari membenarkan yang biasa jadi membiasakan yang benar,” pungkas Sudaryono.

Kunjungan ini menjadi pengingat pentingnya peran ilmiah dan teknis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Meskipun bekerja dalam diam, para petugas BBPOPT adalah garda terdepan pertanian Indonesia—Satria Gajah Hitam yang senyap namun mematikan bagi para hama. ***

 

Berita Terkait

Biaya Haji 2027 Disepakati, Jamaah Reguler Efektif Bayar Rp23,24 Juta
Sekolah Rakyat di Sulbar Dibangun Besar-besaran, Mamuju Tampung 1.260 Siswa
UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Said Iqbal Soroti 3 Celah yang Bisa Rugikan Buruh
Tiga Tahun Tragedi Gaza, Sukamta: Jangan Bangun Gaza tapi Palestina Hilang
UU Ketenagakerjaan Baru Disahkan, Yoga Duwarto: Jangan Lagi Ganti Aturan Setiap Ganti Menteri
Slamet Minta BRAN Gerak Cepat, Konflik Agraria Jangan Dibiarkan Berlarut
RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Selangkah Lagi Jadi UU, Pemerintah Setuju Dibawa ke Paripurna
Mukhtarudin Bertemu Menteri SDM Malaysia, Bahas Pelindungan Pekerja Migran Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Biaya Haji 2027 Disepakati, Jamaah Reguler Efektif Bayar Rp23,24 Juta

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:11 WIB

Sekolah Rakyat di Sulbar Dibangun Besar-besaran, Mamuju Tampung 1.260 Siswa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:41 WIB

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Said Iqbal Soroti 3 Celah yang Bisa Rugikan Buruh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:03 WIB

Tiga Tahun Tragedi Gaza, Sukamta: Jangan Bangun Gaza tapi Palestina Hilang

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:37 WIB

UU Ketenagakerjaan Baru Disahkan, Yoga Duwarto: Jangan Lagi Ganti Aturan Setiap Ganti Menteri

Berita Terbaru