Episode Tiga
DI suatu pagi yang cerah di Cibubur, saat burung berkicau dan tukang bakso baru mulai ngasah sendok, Mpok Hindun sedang manyun di teras. Alasannya? Satu: tetangga baru yang kelewat nyebelin.
Namanya Bu Cyntia—tapi di grup WA, dia nulisnya “Synthia, with an H” (biar kesannya internasional).
Sejak pindah dua minggu lalu, Bu Cyntia belum pernah nyapa. Lewat depan rumah orang? Jalan aja terus, kepalanya kayak menara air, tinggi dan gak noleh.
Mobilnya putih kinclong. Tas-nya bling-bling. Suaranya?
“Hallooww Mbak-Mbak,” dengan aksen kebarat-baratan padahal tetangga semua manggil tukang sayur masih “Bang Udin”.
Dan kalau musiknya nyala? Ampun.
“Lagu EDM dicampur dangdut remix. Tiap pagi, kuping berasa ditabok DJ di dalam wajan.”
Siangnya, Mpok Hindun lagi nyapu halaman, ketemu Bu Nani—yang bukan warga, tapi asisten rumah tangga keliling merangkap kantor berita jalanan.
“Eh Pok, denger-denger ya… itu Bu Cyntia tuh, katanya istri simpenan pejabat.”
Mpok Hindun langsung berhenti nyapu.
“Siapa pejabatnya?”
“Anuuu… yang suka keluar di berita. Pejabat kementerian yang dulu ketahuan punya vila 12 biji dan koleksi motor moge…”
“Astaga… jangan-jangan yang sempet viral itu? Yang simpen boneka barbie limited edition buat… ya gitu deh…”
Mpok Hindun langsung masuk rumah, buka HP, buka WA grup “Berita Bunda Bergerak” dan mulai scrolling.
“Nih! Bener! Muka pejabatnya nongol lagi… dan di salah satu foto di Instagram, ada background sofa yang sama kayak rumah Bu Cyntia!”
Malam itu, setelah anak-anak tidur dan kompor dimatiin, Mpok Hindun duduk di depan laptop. Daster ganti jadi daster hitam investigasi.
Kacamata baca dipasang. Cemilan? Astor isi gorengan.
“Google… sini, bantu Mpok cari kebenaran!”
Mpok ketik:
“Pejabat skandal istri simpanan villa Cibubur”
Muncul beberapa link berita—ada yang dari media resmi, ada yang dari blog dengan layout miring, ada yang dari akun X (dulu Twitter) bernama @HotTeaEmak2.
Dan dari semua sumber itu, satu pola mulai kelihatan:
Pejabatnya belum diperiksa KPK, tapi udah dipantau
Ada rumah di Cibubur yang disebut-sebut tempat “relaksasi pribadi”
Dan… salah satu mobil mewah yang biasa dipakai si pejabat mirip banget sama yang parkir di depan rumah Bu Cyntia.
Mpok Hindun ngunyah astor pelan-pelan.
“Wah… ini mah bukan gosip. Ini aroma skandal beneran!”
Besok paginya, Mpok Hindun pura-pura lewat depan rumah Bu Cyntia sambil bawa ember dan sapu.
Pas ketemu si empunya rumah, dia senyum tipis dan bilang:
“Bu… rumahnya wangi banget ya… kayak rumah pejabat. Hehehe.”
Bu Cyntia cuma senyum sinis:
“Thank you. Wangi aroma imported.”
Mpok Hindun: “Import dari negara mana? Negara tipu-tipu?”
Mpok Hindun punya ide: jadikan arisan RW sebagai pusat pemantauan.
Setiap arisan, semua tetangga bawa laporan gosip terbaru:
Siapa belanja pakai uang cash 50 lembar?
Siapa yang suka COD tapi barangnya mewah?
Siapa yang gak pernah salat berjamaah tapi suka nyumbang gede?
“Kalau ada yang mencurigakan, jangan dibilangin… cukup dicatet. Nanti biar saya tindak lanjut,” kata Mpok Hindun sambil nyoret-nyoret di notes “Misi Mpok Sebel – Volume 2”.
Mpok Hindun siap.
Ia bukan hanya janda beranak dua.
Ia adalah mata-mata berpikiran tajam, berbekal Google, WA grup, dan naluri emak-emak yang gak bisa dibohongi.
Jika ada tetangga bergaya glamor tapi jiwanya misterius, maka Mpok Hindun akan turun tangan.
Karena bagi Mpok, pejabat bisa korup, tapi daster harus tetap bersih!
Penulis : regardo sipiroko













