Episode Empat
SUATU sore yang biasa di Kampung Cibubur, angin berhembus pelan, daun-daun bergoyang, dan… WA grup warga mendadak ramai.Mpok Hindun baru aja naruh tahu isi ke wajan, tiba-tiba HP-nya bunyi ting-ting-ting beruntun kayak sirene pemadam.
“Astaga! Warga RW 06, Pak Yusuf, katanya gantung diri! Diduga karena teror pinjol!”
“Ya Allah, kasihan istrinya, katanya tiap hari didatengin debt collector sampe malam!”
“Pinjem sejuta, ditagih tiga juta, katanya!”
Mpok Hindun langsung matiin kompor.
“Yah ampun, masa iya di kampung kita yang adem kayak tahu kukus ini… sekarang isinya teror tagihan?”
Seminggu terakhir, hampir semua warga dapat WA dari nomor asing.
Isinya aneh-aneh:
“Pinjaman Anda disetujui, cair 1 juta dalam 2 menit!”
“Kalau gak bayar hari ini, kami sebar foto Anda!”
“Ini kolega Anda… Ibu Yati, kami tagih juga!”
Bu Yati sampai nangis. Padahal dia gak pinjem apa-apa. Cuma pernah selfie bareng Bu Marni, yang ternyata pernah pinjem ke aplikasi bernama “CepatBisaCashNow123” (logo aplikasi aja ngeblur).
Tak lama setelah kejadian Pak Yusuf, datanglah seorang pria muda berdasi ke rumah Mpok Hindun.
“Mpok Hindun, kami dari perusahaan pembiayaan terpercaya. Kami dengar Mpok ini tokoh masyarakat, cantik, punya wibawa, dan sayang warga…”
Mpok Hindun curiga dari kalimat ketiga.
“Kita butuh orang kayak Mpok buat jadi koordinator kampung. Nanti tiap warga yang pinjam, setor lewat Mpok. Komisinya gede, loh. Bisa buat nyekolahin anak sampe kuliah ke Jerman.”
Mpok Hindun melotot sambil pelan-pelan narik sandal.
“Jerman dari Hongkong! Saya janda, bukan penjilat dosa!”
Pria itu langsung kabur begitu sandal nyaris mendarat di lutut.
Malam itu, Mpok Hindun buka laptop. Daster diganti hoodie.
Mode: Dark Web Emak-Emak.
Ia buka forum, cek review aplikasi, baca laporan media.
“Gila… satu aplikasi bisa punya 45 cabang nama beda-beda. Dan semuanya nyasar ke warga yang gaptek.”
Mpok Hindun tak tinggal diam. Ia buat:
Selebaran edukasi: “Apa itu Pinjol? Dan Kenapa Kamu Harus Kabur!”
WA Blast: dikirim ke semua grup warga, RT, pengajian, arisan, dan tukang gas.
Video pendek: Mpok Hindun ngomong di depan warung, pakai mic bekas pengajian:
“Warga Cibubur! Jangan percaya sama duit cepat! Kalau gampang, pasti jebakan. Duit halal tuh butuh usaha, bukan unduh aplikasi trus kaget liat bunga kayak nanem di kuburan!”
Karena kerja keras Mpok Hindun, banyak warga yang mulai uninstall aplikasi pinjol.
Warga RW 06 mulai damai. Anak-anak bisa main layangan tanpa teriak,
“Bang, itu debt collector!”
Mpok Hindun duduk di teras malam itu, menyeruput teh manis sambil ngeliat bintang.
“Pinjol itu kayak mantan: awalnya manis, ujungnya nyiksa. Hati-hati, jangan bucin sama bunga tinggi.”
Dan sejak itu, warga memberi julukan baru buat Mpok Hindun:
“Bunda Anti Bunga Jahat.”
Nyambung lagi ye ke epidose berikutnya…
Penulis : regardo sipiroko













