Ratusan Gajah Mati karena Kekeringan di Zimbabwe

- Penulis

Sabtu, 30 Desember 2023 - 22:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – 100 ekor gajah telah mati di Taman Nasional terbesar di Zimbabwe akibat kekeringan yang melanda. Saat ini, bangkai mereka menjadi contoh mengerikan dampak perubahan iklim dan fenomena cuaca El Nino.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa akan lebih banyak lagi korban di berbagai bagian negara Afrika selatan, termasuk Taman Nasional Hwange, karena prakiraan menunjukkan kurangnya curah hujan dan peningkatan panas di daerah-daerah tersebut.

Hal ini akhirnya diungkap oleh International Fund for Animal Welfare dan dianggap sebagai krisis bagi hewan-hewan liar termasuk gajah.

Sebagaimana yang dikutip dari CBS News, juru bicara Otoritas Pengelolaan Taman Nasional dan Satwa Liar Zimbabwe, Tinashe Farawo, menyatakan bahwa El Nino memperburuk situasi yang sudah mengerikan ini.

El Nino adalah fenomena cuaca alami dan berulang yang menghangatkan sebagian wilayah Pasifik, sehingga mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia. Meskipun El Nino tahun ini menyebabkan banjir mematikan di Afrika Timur, dampaknya di sisi lain diperkirakan akan menyebabkan curah hujan di bawah rata-rata di seluruh Afrika bagian selatan. Hal ini sudah dirasakan pada musim hujan di Zimbabwe yang dimulai beberapa minggu lebih lambat dari biasanya, dan meskipun saat ini sudah turun hujan, prakiraan cuaca secara umum memperkirakan akan terjadi musim panas yang kering dan terik dalam beberapa pekan ke depan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa perubahan iklim kemungkinan membuat El Nino semakin kuat dan menimbulkan konsekuensi yang lebih ekstrem. Pihak berwenang khawatir kejadian tahun 2019 terulang kembali, ketika lebih dari 200 gajah di Taman Nasional Hwange mati akibat kekeringan parah. “

Fenomena ini berulang,” seperti kata Phillip Kuvawoga, direktur program lanskap di International Fund for Animal Welfare dalam sebuah laporan bulan ini. Banyak gambar dan video yang diunggah oleh juru bicara Badan Taman Nasional Farawo di berbagai media sosial, salah satunya adalah video seekor gajah muda yang berjuang untuk hidup setelah terjebak dalam lumpur di lubang air yang sebagian mengering di Hwange.

Farawo menyatakan bahwa gajah yang paling terkena dampaknya adalah gajah muda, tua, dan sakit yang tidak dapat melakukan perjalanan jauh untuk mencari air. Setiap ekor gajah dengan ukuran rata-rata membutuhkan asupan air harian sekitar 52 galon.

Farawo juga membagikan gambar lain yang menunjukkan seekor gajah betina terjebak di lumpur dan seekor lainnya ditemukan mati di lubang air yang dangkal. Penjaga taman mengambil gading gajah yang mati serta melindunginya agar bangkainya tidak menarik perhatian pemburu liar.

Taman Nasional Hwange mencakup wilayah seluas 5.600 mil persegi dan merupakan rumah bagi sekitar 45 ribu gajah, lebih dari 100 spesies mamalia lainnya, dan 400 spesies burung. Ketidakpastian iklim dalam beberapa tahun terakhir telah mengingatkan para pegiat lingkungan akan musim kemarau yang lebih panjang dan parah di wilayah ini.

“Wilayah kami akan memiliki curah hujan yang jauh lebih sedikit, sehingga musim kemarau bisa segera kembali karena El Nino,” Trevor Lane, direktur The Bhejane.

Menurut dia, organisasinya telah memompa 1,5 juta liter air ke dalam lebih dari 50 lubang bor yang dikelolanya melalui kemitraan dengan dinas pertamanan setiap hari untuk membantu menyelamatkan hewan-hewan liar di Taman Hwange karena taman ini tidak memiliki sungai besar yang mengalir melaluinya.

Para pelestari lingkungan mengatakan bahwa menyelamatkan gajah bukan hanya untuk kepentingan hewan. Gajah merupakan sekutu utama dalam memerangi perubahan iklim, karena mereka membantu ekosistem dengan cara menyebarkan vegetasi dalam jarak jauh melalui kotoran yang mengandung benih tanaman, sehingga hutan dapat menyebar, beregenerasi, dan tumbuh subur. Kemudian, pepohonan akan menyedot karbon dioksida penyebab pemanasan global dari atmosfer.

“Mereka mempunyai peran yang jauh lebih besar dibandingkan manusia dalam reboisasi. Itulah salah satu alasan kami berjuang untuk menjaga gajah tetap hidup,” kata Trevor.***

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho
Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian
300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional
Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao
Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata
Galaxy A36 5G Antar Team Vagos Juara SGGA 2025
Debut Global yang Membanggakan! Tim Labmino Bawa Inovasi RunSight Tembus 20 Besar Dunia Samsung Solve for Tomorrow 2025
 Monitor Satu Layar untuk Gaming dan Produktivitas

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 05:00 WIB

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho

Jumat, 27 Februari 2026 - 21:43 WIB

Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:02 WIB

300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional

Selasa, 17 Februari 2026 - 12:06 WIB

Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:00 WIB

Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata

Berita Terbaru