Pulau Kemaro: Legenda Cinta Abadi di Tengah Sungai Musi yang Tak Pernah Tenggelam

- Penulis

Minggu, 9 Februari 2025 - 16:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Kemaro: Legenda Cinta Abadi di Tengah Sungai Musi yang Tak Pernah Tenggelam. (RRI/Ardi Yap)

Pulau Kemaro: Legenda Cinta Abadi di Tengah Sungai Musi yang Tak Pernah Tenggelam. (RRI/Ardi Yap)

RENTAK.ID – Di tengah derasnya arus Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan sejuta pesona dan misteri. Pulau itu bernama Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro tidak hanya terkenal dengan legenda cinta abadinya, tetapi juga sebagai pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh di kota Palembang.

Asal-usul Pulau Kemaro

Pulau Kemaro, merupakan sebuah delta kecil di Sungai Musi yang terletak sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampera.

Salah satu destinasi tempat wisata unik yang tidak pernah tenggelam meskipun Sungai Musi pasang.

Pada zaman Kolonial, Pulau Kemaro dijadikan benteng pertahanan Kesultanan Palembang.

Lalu beralih fungsi menjadi camp tahanan dan lahan pertanian.

Hingga akhirnya kini menjadi tempat ibadah serta destinasi wisata religi.

Legenda Cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah
Semua warga Palembang tentu sudah tahu tentang kisah cinta yang melegenda di pulau Kemaro.

Kisah cinta Siti Fatimah, seorang Putri Palembang dengan Tan Bun An, seorang saudagar asal Cina.

Tan Bun An yang pulang dari Cina diberi hadiah oleh orangtuanya sembilan guci berisi emas. Tapi ditutupi dengan sawi asin.

Karena malu dan tidak tahu, dia lalu membuang guci itu. Hingga di guci terakhir dia baru mengetahui isinya adalah emas.

Tan Bun An meminta pengawalnya terjun ke Sungai Musi, lalu dia pun menyusul. Namun mereka berdua tidak muncul ke permukaan. Lalu Siti Fatimah juga ikut terjun ke sungai.

Tapi ketiganya tak pernah muncul. Hingga akhirnya tempat mereka tenggelam tiba-tiba muncul pulau kecil yang dikenal sebagai Pulau Kemaro.

Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro
Saat perayaan Cap Go Meh, pulau ini ramai dikunjungi peziarah dan wisatawan.

Puncak perayaan Cap Go Meh tahun ini diperkirakan terjadi di tanggal 10 sampai 11 Februari 2025.

Cap Go Meh sendiri berasal dari bahasa Hokkian yaitu 15 hari setelah Imlek. Perayaan Cap Go Meh adalah puncak atau akhir dari perayaan Imlek. Cap Go Meh juga terkenal dengan sebutan Festival Lentera.

Biasanya perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro dimeriahkan dengan pertunjukan Barongsai, menerbangkan lampion dan ada tradisi penyembelihan kambing hitam jantan saat malam puncak perayaan Cap Go Meh.

“Tiap daerah itu punya ciri khasnya masing-masing. Nah, di Palembang ya menyembelih kambing jantan hitam,” ujar Budayawan Tionghoa Palembang, Cik Harun, dilansir dari akun Instagram Chaming Palembang.

Proses penyembelihan tersebut dilakukan tepat tengah malam dan di depan altar leluhur Siti Fatimah. Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.

Pemilihan kambing jantan berwarna hitam adalah tradisi leluhur dan sudah dijalankan secara turun temurun.

Kenapa kambing jantan hitam yang dipilih? Ini dikarenakan Siti Fatimah adalah seorang muslim. Kambing tergolong halal bagi kaum muslim.

Mengunjungi Pulau Kemaro

Pulau Kemaro terletak di daerah industri, yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong.

Posisi Pulau Kemaro adalah agak ke timur dari pusat Kota Palembang.

Untuk mencapai Pulau Kemaro, pengunjung dapat menggunakan jalur darat maupun jalur air.

Jika menggunakan jalur darat, pengunjung dapat menuju ke dermaga penyeberangan di sekitar Jembatan Ampera.

Dari sana, pengunjung dapat menyewa perahu atau speedboat untuk menuju Pulau Kemaro.

Pesona Pulau Kemaro

Pulau Kemaro menawarkan berbagai macam pesona yang menarik untuk dinikmati.

Selain legenda cinta abadinya dan perayaan Cap Go Meh, pulau ini juga memiliki pemandangan alam yang indah.

Pengunjung dapat menikmati keindahan Sungai Musi dan sekitarnya dari atas pulau ini.

Selain itu, Pulau Kemaro juga memiliki berbagai macam kuliner khas Palembang yang lezat.

Pengunjung dapat mencicipi berbagai macam hidangan seperti pempek, tekwan, dan pindang patin di pulau ini.

Pulau Kemaro adalah destinasi wisata yang cocok untuk dikunjungi oleh semua kalangan.

Baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Pulau ini menawarkan kombinasi yang unik antara wisata sejarah, wisata religi, dan wisata alam.

Tips Mengunjungi Pulau Kemaro

* Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Kemaro adalah saat perayaan Cap Go Meh.

* Jika ingin suasana yang lebih tenang, pengunjung dapat mengunjungi Pulau Kemaro di luar perayaan Cap Go Meh.

* Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen indah di Pulau Kemaro.

* Jagalah kebersihan dan kelestarian Pulau Kemaro selama berkunjung.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Pulau Kemaro.***

Editor : Ayham

Sumber Berita: RRI.co.id

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46
Di tengah derasnya arus Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan sejuta pesona dan misteri. Pulau itu bernama Pulau Kemaro.Pulau Kemaro tidak hanya terkenal dengan legenda cinta abadinya, tetapi juga sebagai pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh di kota Palembang.Asal-usul Pulau Kemaro Pulau Kemaro, merupakan sebuah delta kecil di Sungai Musi yang terletak sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampera.

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru