JAKARTA – Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) makin gencar memaksimalkan aset properti investasi untuk mendongkrak sektor kelautan dan perikanan. Salah satunya, lewat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros yang jadi tumpuan.
Berlandaskan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) 17, tanah dan bangunan yang dikelola ini dimanfaatkan untuk mendongkrak pendapatan, memberdayakan masyarakat, serta mendukung program Smart Fisheries Village (SFV) yang berbasis digital dan berkelanjutan. Ini bukan sekadar soal produktivitas, tapi juga memastikan aset tetap bernilai ekonomi dan berkontribusi pada kemajuan sektor perikanan budidaya.
Menurut Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, “Pemanfaatan aset ini tak hanya efisien dan produktif, tapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan perikanan budidaya yang menguntungkan.”
BRPBAP3 Maros mengelola tiga aset utama yang telah teridentifikasi berkat pendampingan Inspektorat Jenderal KKP. Aset-aset ini, mulai dari tanah sawah irigasi, tambak silvofishery, hingga tambak beton, tersebar di tiga wilayah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Semua aset kami kelola dalam program Smart Fisheries Village untuk mendorong inovasi dan keberlanjutan. Dengan tata kelola yang tepat, aset ini terus berkembang, memberdayakan masyarakat, dan menjadi pendorong utama ekonomi perikanan Indonesia,” tegas Indra Jaya Asad, Kepala BRPBAP3 Maros.
Peningkatan PNBP dan Ekonomi Masyarakat
Indra Jaya Asad juga merinci pengelolaan aset yang memberikan dampak besar. Pertama, tanah sawah irigasi di Instalasi Mina Padi, yang mengelola 18,6 hektare dari 22,2 hektare (83,8%), dikelola oleh kelompok Mina Padi Raya, Mina Padi Alam, dan Mina Padi Bersama yang terdiri dari 55 orang. Pada 2024, produksi gabah tercatat 34.850 kg, melampaui target 15.000 kg (232% dari target), dan pendederan ikan nila mencapai 27.500 ekor (115% dari target), dengan pembesaran ikan nila mencapai 1.535 kg (102% dari target).
Aset kedua, tanah tambak di instalasi silvofishery SFV Wanamina Marana, Kabupaten Maros, memanfaatkan 34,2 hektare dari 44,52 hektare (76,98%). Properti ini dikelola oleh Pokdakan Manrimisi Jaya dan Poklahsar Marlo Jaya yang memiliki 23 anggota. Pada 2024, instalasi ini menghasilkan 1.765 kg gabah, 2.000 ekor ikan nila, serta 20.359 kg rumput laut. Di sektor perikanan, pendederan bandeng mencapai 291.114 ekor, termasuk 33.276 ekor bandeng super dan 258.838 ekor bandeng biasa. Tak hanya itu, pendederan udang windu mencapai 263.200 ekor, produksi garam krosok 1.397,5 kg, serta bibit bakau sebanyak 15.875 bibit.
Sementara itu, tambak beton dan tambak tanah di instalasi tambak SFV Budidaya Udang Takalar dikelola seluas 3,92 hektare dari 12 hektare (32%). Dikelola oleh Pokdakan Akuakultur Makmur Jaya yang beranggotakan 10 orang, pada 2024, instalasi ini mencatat produksi udang vanname mencapai 10,8 ton dengan berbagai metode budidaya dari rumah tangga hingga super-intensif. Capaian ini mencapai 59% dari target 18,4 ton, menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya.
Pengelolaan aset properti ini turut berkontribusi pada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 2024, dengan total pendapatan mencapai Rp950.832.800. Pendapatan ini berasal dari SFV Mina Padi (Rp263.675.000), SFV Wanamina Marana (Rp229.381.700), dan SFV Budidaya Udang Takalar (Rp457.776.100). Hal ini menunjukkan bahwa optimalisasi aset negara dapat menjadi sumber pendapatan strategis yang mendukung inovasi dan keberlanjutan sektor perikanan budidaya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa pemanfaatan aset properti investasi adalah langkah konkret dalam mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. ***
Penulis : dafri jh
Editor : ameri













