Menuju Indonesia Maju: Kick-Off Internalisasi Peta Jalan Kependudukan 2025–2029

- Penulis

Kamis, 12 Juni 2025 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Wihaji saat membuka kegiatan Regional Internalisasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029 secara daring. (ist)

Menteri Wihaji saat membuka kegiatan Regional Internalisasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029 secara daring. (ist)

JAKARTA – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan komitmennya dalam menjalankan amanah Presiden Prabowo Subianto untuk mengawal masa depan Indonesia melalui kebijakan kependudukan dan pembangunan keluarga.

“Sebagai pembantu Presiden, saya akan jalankan amanah ini dengan sungguh-sungguh. Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola isu-isu kependudukan dan pembangunan keluarga,” tegas Menteri Wihaji saat membuka kegiatan Regional Internalisasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029 secara daring dari Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (11/6/2025).

Komitmen tersebut dilandasi oleh dua regulasi baru, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 180 Tahun 2024 tentang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta Perpres Nomor 181 Tahun 2024 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Dalam pidatonya, Menteri Wihaji menyoroti pentingnya program Keluarga Berencana (KB) dan penggunaan kontrasepsi, yang menurutnya memiliki dampak besar terhadap arah pembangunan nasional. Ia mengingatkan bahwa isu tersebut bukan hanya soal jumlah penduduk, melainkan tentang kualitas keluarga Indonesia.

“Selama masih ada keluarga, Indonesia akan tetap berdiri. Tapi bayangkan kalau tidak ada keluarga. Kita bisa belajar dari Jepang, yang pertumbuhan penduduknya kini negatif. Ini adalah tantangan besar kita dalam membangun keluarga dan mewujudkan Indonesia Maju,” ujar Wihaji.

Menteri Wihaji juga menekankan bahwa pengelolaan kependudukan yang baik adalah pondasi untuk merancang pembangunan secara terstruktur dan tepat sasaran. Ia memberikan ilustrasi: “Kalau kita tahu jumlah penduduk 1.000 orang, maka harus dihitung kebutuhan rumahnya, kamar tidurnya, fasilitas kesehatan, hingga tempat sampahnya. Itulah yang kita sebut Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK). Harus dirancang dengan baik.”

Kegiatan internalisasi PJPK 2025–2029 ini ditujukan untuk menyatukan arah pembangunan pusat dan daerah. PJPK sendiri merupakan dokumen operasional yang menjadi turunan dari GDPK, disusun untuk periode lima tahun dengan pendekatan sebagai living document agar bisa menyesuaikan dinamika pembangunan.

Wilayah prioritas dalam tahap awal internalisasi ini mencakup lima provinsi: Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Daerah Khusus Jakarta.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X yang hadir mewakili Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan bahwa pembangunan kependudukan adalah investasi jangka panjang untuk peradaban bangsa.

“Setiap kebijakan yang berpihak pada manusia, menjamin kualitas dan martabat, adalah investasi terbaik menuju Indonesia yang berdaya dan berkedaulatan,” ujar Paku Alam X.

Ia menambahkan bahwa tantangan saat ini seperti urbanisasi, ketimpangan wilayah, dan transformasi digital memerlukan kebijakan adaptif dan berorientasi pada peningkatan kualitas manusia. Oleh sebab itu, PJPK harus responsif terhadap perubahan dan inklusif bagi semua generasi.

Internasionalisasi PJPK juga dikaitkan dengan proses penyesuaian dokumen perencanaan daerah, seiring pelantikan kepala daerah hasil Pilkada serentak 2024. Mengacu pada Permendagri Nomor 86 Tahun 2017, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) harus disahkan paling lambat enam bulan setelah pelantikan.

“Momentum ini sangat penting. PJPK dan Rencana Aksi perlu segera diinternalisasikan ke dalam RPJMD, Renstra, dan dokumen perencanaan lainnya agar pembangunan kependudukan di daerah selaras dengan arah nasional,” ujar Wihaji.

Sebelumnya, Kick Off Meeting PJPK dan Rencana Aksi telah digelar pada Maret 2025, bersamaan dengan peluncuran Panduan PJPK dan tata laksana lainnya. Rangkaian workshop nasional dan provinsi pun telah dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pengelola program di daerah.

Dengan penguatan koordinasi pusat-daerah melalui PJPK 2025–2029, pemerintah berharap mampu menyongsong bonus demografi dan menghadapi tantangan seperti penuaan penduduk (ageing population) dalam rangka mencapai Visi Indonesia Emas 2045.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Dikebut, AHY Sebut Sudah Tembus 17 Kilometer
Permenaker 7/2026 Diprotes, KSPI dan Partai Buruh Desak Revisi Aturan Outsourcing
3 SPPG di Bangka Belitung Rampung, Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Program BSPS 2026: Pemerintah Targetkan 3 Juta Rumah Layak Huni hingga 2029
Irman Gusman: Pariwisata Sumatera Barat Punya Potensi Besar, Mentawai Bisa Jadi Destinasi Global
Kuliah Umum di UNWAHAS, Nusron Wahid Tekankan Pentingnya Pemerataan Akses Tanah
Keselamatan Kapal Indonesia Meningkat, Hanya 5 Kapal Ditahan Sepanjang 2025
BULOG Bagikan 350 Ribu Paket Sembako di May Day 2026, Bantu Ringankan Beban Buruh

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 15:01 WIB

Permenaker 7/2026 Diprotes, KSPI dan Partai Buruh Desak Revisi Aturan Outsourcing

Senin, 4 Mei 2026 - 07:24 WIB

3 SPPG di Bangka Belitung Rampung, Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:22 WIB

Program BSPS 2026: Pemerintah Targetkan 3 Juta Rumah Layak Huni hingga 2029

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:38 WIB

Irman Gusman: Pariwisata Sumatera Barat Punya Potensi Besar, Mentawai Bisa Jadi Destinasi Global

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:31 WIB

Kuliah Umum di UNWAHAS, Nusron Wahid Tekankan Pentingnya Pemerataan Akses Tanah

Berita Terbaru