JAKARTA– Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding meminta Polis Diraja Malaysia (PDRM) untuk bersikap transparan dalam menangani kasus penangkapan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia beberapa hari lalu.
“Kami percaya polisi Malaysia akan melakukan penyidikan secara terbuka, karena ini menyangkut hubungan dua negara. Jangan sampai hal-hal seperti ini mengganggu persahabatan antara Indonesia dan Malaysia,” kata Karding dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/2/2025).
Menteri P2MI menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum mengetahui identitas WNI yang ditangkap maupun perkembangan penyelidikan di Malaysia.
Penangkapan WNI Terkait Penembakan oleh APMM
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengonfirmasi bahwa PDRM Kepolisian Selangor telah menangkap satu WNI yang diduga terkait dengan insiden penembakan terhadap WNI di Malaysia pada 24 Januari 2025.
“WNI tersebut memasuki Malaysia dengan visa turis dan saat ini ditahan oleh kepolisian untuk membantu investigasi,” ujar Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu, Judha Nugraha, dalam keterangan resminya, Senin (3/2/2025).
Judha menyampaikan bahwa KBRI Kuala Lumpur belum menerima notifikasi kekonsuleran terkait penangkapan tersebut. “Kami sudah mengirimkan nota diplomatik kepada Pemerintah Malaysia untuk meminta penjelasan dan akses kekonsuleran bagi WNI yang ditangkap,” jelasnya.
Judha juga mengungkapkan bahwa KBRI Kuala Lumpur telah bertemu dengan Kepala Kepolisian Daerah (IPK) Selangor. Dalam pertemuan itu, PDRM berkomitmen untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, cepat, dan transparan, termasuk terhadap anggota Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) yang terlibat dalam insiden tersebut.
“Guna keperluan penyelidikan, aparat APMM yang bertugas saat kejadian telah dibebastugaskan. Pihak APMM menyatakan bersedia bekerja sama dengan PDRM dalam investigasi ini,” tambah Judha
Judha juga menyampaikan perkembangan kondisi para WNI yang menjadi korban penembakan APMM. Salah satu korban, MH (asal Aceh), kini dalam kondisi stabil setelah menjalani operasi dan telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
“Sementara satu WNI lainnya masih dalam perawatan intensif di rumah sakit, sehingga belum dapat memberikan keterangan dan identitasnya belum terverifikasi,” katanya.
Dua WNI lain yang juga mengalami luka tembak, yakni MZ dan HA yang berasal dari Provinsi Riau, telah dinyatakan sembuh dan saat ini tengah dimintai keterangan oleh kepolisian.
Kerja Sama dengan PBNU untuk Pelatihan CPMI
Di sela pernyataan mengenai kasus WNI di Malaysia, Menteri P2MI Abdul Kadir Karding juga mengumumkan kerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).
“Kami telah menandatangani MoU dengan PBNU yang salah satunya bertujuan untuk mengonsolidasikan sekolah-sekolah di bawah naungan PBNU guna memberikan pelatihan kepada CPMI, termasuk pelatihan keperawatan,” ujar Karding seusai menghadiri Munas dan Konbes NU di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2025).
Menurut Karding, lembaga pendidikan NU memiliki keunggulan dalam penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Arab, yang menjadi nilai tambah bagi pekerja migran di berbagai negara.
“Kami melihat sekolah-sekolah di bawah NU sudah terbiasa dengan bahasa Inggris dan Arab yang baik. Ini menjadi alasan kuat bagi kami untuk menggandeng mereka dalam pelatihan CPMI,” jelasnya.
Selain dengan PBNU, Karding juga berencana menggandeng organisasi lain, termasuk Muhammadiyah, untuk meningkatkan kualitas SDM pekerja migran.
“Kami juga akan menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah dengan tujuan yang sama, yakni menyiapkan pelatihan SDM pekerja migran. Intinya, kami harus banyak berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia,” pungkasnya. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













