Mendiktisaintek Brian Yuliarto: Gerakan Mahasiswa adalah Kompas Moral Bangsa

- Penulis

Rabu, 3 September 2025 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mendiktisaintek  Brian Yuliarto (dok. kemendiktisaintek)

Mendiktisaintek Brian Yuliarto (dok. kemendiktisaintek)

JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., menegaskan bahwa aksi mahasiswa yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir harus dipandang sebagai gerakan moral sekaligus kompas bangsa. Ia menekankan, penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945.

“Gerakan aksi mahasiswa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir harus dipandang sebagai bagian dari gerakan moral dan kompas bagi bangsa serta penyelenggara negara. Menyampaikan aspirasi adalah hak konstitusional yang dijamin UUD 1945, sekaligus wujud kebebasan berpikir, berpendapat, dan berkumpul,” ujar Brian dalam keterangan resmi, Rabu (3/9/2025).

Ia menambahkan, suara mahasiswa adalah pengingat penting bagi pemerintah untuk menjalankan kebijakan dengan empati dan kepekaan terhadap persoalan rakyat. “Kemdiktisaintek meyakini bahwa suara mahasiswa adalah pengingat bagi semua pihak untuk menjalankan pemerintahan dengan kepekaan, empati terhadap persoalan rakyat, serta kemauan melakukan koreksi atas kebijakan yang belum sejalan dengan pemajuan kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Prihatin atas Insiden UNISBA

Sejak 25 Agustus 2025, Kemdiktisaintek memberikan perhatian penuh pada kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi, baik terkait dinamika politik di DPR RI maupun tuntutan keadilan bagi korban demonstrasi.

“Kami berada dalam satu tarikan nafas dengan gerakan mahasiswa yang konsisten memperjuangkan keadilan,” tegas Brian.

Namun, ia mengaku prihatin sekaligus mengecam keras adanya tindakan anarkis, termasuk penjarahan dan provokasi destruktif yang merusak kohesi sosial. “Keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas, dengan penyampaian aspirasi di ruang aman, khususnya lingkungan kampus, agar tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Brian juga menyayangkan insiden penyemprotan gas air mata ke arah kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 1 September 2025. Menurutnya, tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai serangan terhadap ruang aman kampus.

“Saya juga menyayangkan insiden penyemprotan gas air mata ke arah kampus UNISBA, yang dapat dimaknai sebagai serangan terhadap ruang aman kampus. Padahal, sebagaimana disampaikan Rektor UNISBA Harits Nu’man, aparat keamanan telah berupaya memastikan pihak luar yang tidak bertanggung jawab keluar dari area kampus,” ujar Brian.

Langkah Kemdiktisaintek

Untuk mencegah insiden serupa, Kemdiktisaintek mengambil sejumlah langkah, antara lain:

Monitoring dan koordinasi dengan perguruan tinggi untuk menilai dampak yang dialami mahasiswa maupun staf, termasuk pemberian pendampingan medis dan psikologis.

Menjaga kampus sebagai ruang aman dengan mengutamakan dialog serta langkah persuasif.

Menyediakan kanal pengaduan cepat agar persoalan di kampus dapat segera ditangani.

Menjaga marwah gerakan mahasiswa sebagai gerakan damai untuk mengawal jalannya pemerintahan.

“Demonstrasi mahasiswa adalah gerakan damai untuk mengawal jalannya pemerintahan. Anarki bukan DNA mahasiswa. Karena itu, ruang akademik harus terlindungi dari tindakan represif maupun penyusupan pihak luar,” tegasnya.

Ajak Kampus Buka Dialog

Di akhir pernyataannya, Brian menegaskan komitmen pemerintah menjaga kampus sebagai ruang aman dan merdeka bagi mahasiswa.

“Suara mahasiswa adalah bagian penting dari denyut bangsa. Jika aksi terus dilakukan, mari kita rapatkan barisan dengan damai, menjaga marwah gerakan mahasiswa agar tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin merusak republik,” ucap Brian.

Ia juga mengajak para rektor dan pimpinan perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk membuka ruang dialog dengan mahasiswa. “Kampus harus menjadi contoh terbaik dalam merawat demokrasi yang sehat dan bermartabat, dengan selalu mengedepankan dialog dan langkah persuasif,” tutupnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

FSGI Catat 100 Kasus Kekerasan di Sekolah, Korban Capai 1.000 Orang
TKA 2026 Ditutup, 4,2 Juta Siswa Sudah Mendaftar
Abdul Mu’ti Tegaskan Pendidikan Pancasila Tak Cukup Diajarkan di Kelas, Ini yang Diperkuat Kemendikdasmen
Forses 2026 Digelar, Mendiktisaintek Dorong K/L Perkuat Sinergi dan Pelayanan Publik
20 Talenta Muda Indonesia Adu Keterampilan di WorldSkills Competition Shanghai 2026
Guru Besar Yuddy Chrisnandi Dukung Langkah Prabowo Gratiskan Pendidikan Negeri
Galeri Kejuruan di Cimahi Diresmikan, Mendikdasmen Dorong SMK Perkuat Inovasi dan AI
20 Talenta Vokasi Indonesia Siap Bertarung di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:48 WIB

FSGI Catat 100 Kasus Kekerasan di Sekolah, Korban Capai 1.000 Orang

Rabu, 30 September 2026 - 10:47 WIB

TKA 2026 Ditutup, 4,2 Juta Siswa Sudah Mendaftar

Rabu, 30 September 2026 - 10:13 WIB

Abdul Mu’ti Tegaskan Pendidikan Pancasila Tak Cukup Diajarkan di Kelas, Ini yang Diperkuat Kemendikdasmen

Jumat, 25 September 2026 - 14:23 WIB

Forses 2026 Digelar, Mendiktisaintek Dorong K/L Perkuat Sinergi dan Pelayanan Publik

Jumat, 25 September 2026 - 09:15 WIB

20 Talenta Muda Indonesia Adu Keterampilan di WorldSkills Competition Shanghai 2026

Berita Terbaru