TANGERANG SELATAN — Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) didorong tidak sekadar mengejar gelar sarjana. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak mereka mulai melihat desa sebagai ladang peluang usaha sekaligus ruang untuk mengembangkan riset.
Yandri mengatakan, potensi ekonomi desa masih sangat besar, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) saat ini mencatat terdapat 49 negara tujuan program desa ekspor.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menggabungkan ilmu yang diperoleh di kampus dengan potensi komoditas unggulan desa.
“Jangan sampai adik-adik mahasiswa takut bermimpi. Walaupun orang kota, kalian bisa berbisnis di desa. Jadilah pengusaha, sebab kami punya 49 negara tujuan ekspor. Mereka membutuhkan banyak cabai, serai, bawang merah, dan komoditas lainnya,” kata Yandri saat menjadi pembicara kunci pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UMJ di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (21/9/2026).
Yandri juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjalani kehidupan kampus hanya dengan pola kuliah, pulang ke kos, lalu kembali kuliah.
Ia mendorong mahasiswa aktif mengikuti organisasi, kegiatan sosial, maupun berbagai aktivitas kemahasiswaan yang dapat mengasah kemampuan kepemimpinan.
“Saya ingin membuka cakrawala adik-adik mahasiswa baru. Jangan hanya berpikir kuliah-kosan, kuliah-kosan. Jangan. Artinya, jangan hanya mau jadi mahasiswa biasa,” ujarnya.
Yandri menilai kampus merupakan salah satu tempat penting bagi mahasiswa untuk membangun kapasitas diri sebelum nantinya terjun ke masyarakat dan memegang tanggung jawab yang lebih besar.
Ia bahkan meminta mahasiswa baru UMJ berani memasang target tinggi untuk masa depan.
“Saya yakin adik-adik mahasiswa yang hadir di sini bakal ada yang jadi menteri, ada yang jadi gubernur. Keliatannya ada,” kata Yandri.
Dalam kesempatan itu, Yandri juga membagikan pengalaman hidupnya yang berasal dari keluarga petani di Bengkulu Selatan.
Ia mengatakan, ibunya tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan keluarganya mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi kampungnya ketika itu juga masih jauh dari fasilitas seperti listrik dan jaringan telekomunikasi.
“Lah, orang saya anak petani. Emak saya tidak tamat SD. Nanam padi sama nanam kopi. Di kampung saya baru masuk listrik 2002, baru masuk sinyal handphone 2015. Kebayang kan kampung saya itu,” tuturnya.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan dan memperbaiki masa depan.
Menurut Yandri, latar belakang dan kondisi seseorang saat ini bukan menjadi penentu mutlak perjalanan hidupnya.
“Tapi apakah membuat saya patah hati? Nggak. Karena menurut saya masa depan itu tergantung kita, atas izin Allah,” katanya.
Karena itu, ia meminta mahasiswa baru UMJ tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan.
“Jadi jangan menyerah dengan situasi dan kondisi yang sedang adik-adik mahasiswa hadapi sekarang,” pungkas Yandri.
Dalam kegiatan tersebut, Yandri didampingi Sekjen Kemendes PDT Taufik Madjid, Kepala BPSDM Kemendes PDT Agustomi Masik, Kepala BPI Kemendes PDT Mulyadin Malik, serta Staf Khusus Menteri Khoriul Huda.
Penulis : lazir
Editor : ameri






