Kotanopan: Desa Tua, Bertuah dan Bersejarah di Mandailing Natal

- Penulis

Senin, 10 Februari 2025 - 02:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tugu Pahlawan, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Tugu Pahlawan, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

MANDAILING NATAL – Bagi siapa pun yang lahir atau pernah mengenal Kotanopan, rasa cinta dan kebanggaan terhadap wilayah ini pasti begitu mendalam. Keistimewaannya tak sekadar pada lanskap alamnya, tetapi juga pada sejarah panjang yang menyertainya. Membaca kisahnya yang menarik sayang untuk dilewatkan, sambil membaca sahabat rentak bisa melonggarkan ikatan sarung untuk meluruskan kaki sambil menyeruput kopi sebagai teman menikmati nostalgia ini.

Jejak Sejarah yang Tak Terlupakan

Secara geografis, Kotanopan adalah bagian dari perbukitan yang dilintasi Pegunungan Bukit Barisan dari utara ke selatan. Di tengahnya, mengalir sebuah sungai yang tak hanya berfungsi sebagai sumber kehidupan tetapi juga menyimpan mitos dan kearifan lokal.

Sungai itu bernama Batang Gadis, yang mengalir dari Gunung Kulabu di Hulu Pakantan, melintasi Muara Sipongi, Kotanopan, Panyabungan, hingga bermuara di Muara Batang Gadis. Ini adalah sungai terpanjang di Kabupaten Mandailing Natal dan merupakan bagian dari Taman Nasional Batang Gadis.

Namun, Kotanopan bukan hanya tentang alamnya, tetapi juga sejarah perjuangannya. Seperti yang ditulis oleh Fadmin M. Malau dalam Perintis Kemerdekaan di Kotanopan Mandailing, wilayah ini melahirkan banyak pejuang dan pemikir besar.

“Orang-orang Kotanopan adalah darah dan jiwa pejuang, bukan kaum pecundang,” begitu kiranya pesan yang tersirat dari buku tersebut.

Sejumlah tokoh besar lahir dari desa ini, salah satunya Jenderal Abdul Haris Nasution atau “Pak Nas”, seorang Tokoh Revolusi yang kemudian menjadi Pahlawan Nasional.

Untuk mengenang jasa para pejuang, sebuah Tugu Perintis Kemerdekaan didirikan pada 9 November 1988, tepat di depan Pasanggrahan Kotanopan. Gubernur Sumatera Utara kala itu meresmikan tugu ini sebagai penghormatan bagi 24 pejuang yang namanya terpahat di sana.

Kotanopan: Pusat Ilmu dan Agama

Selain menjadi tanah kelahiran para pejuang, Kotanopan juga dikenal sebagai tempat lahirnya banyak ulama besar. Di antaranya:

  • Syekh Abdul Hamid (Huta Pungkut Julu, 1865)
  • Syekh Sulaiman Lubis Al Kholidy (Huta Pungkut Tonga, 1842)
  • Tuan Syekh Sulaiman Baqi (Huta Pungkut Tonga, 1917)
  • Syekh H. Muhammad Hasan Lubis (Saba Dolok, 1888)
  • Syekh Abdul Halim Khatib (Tuan Naposo), putra dari Ahmad Khatib Lubis yang berasal dari Manambin.

Bahkan, menurut riset Prof. Dr. Abbas Pulungan dari UIN Sumatera Utara, banyak ulama dari Kotanopan yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam di Nusantara.

Tak hanya ulama, Kotanopan juga melahirkan banyak pendidik besar. Soetan Goenoeng Moelia, misalnya, merupakan lulusan Sekolah Guru Eropa yang kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda hingga meraih gelar Profesor dan Ph.D. Ia bahkan menjadi Menteri Pendidikan kedua setelah Ki Hajar Dewantara di era Soekarno.

Selain itu, Guru Kasim (Mohamed Kasim Dalimunthe), dikenal sebagai sastrawan penting Indonesia pada era Balai Pustaka dan dinobatkan sebagai Bapak Cerpen Indonesia.

Tokoh pers juga lahir dari sini, salah satunya Mochtar Lubis, wartawan kawakan yang mendirikan harian Indonesia Raya dan pernah dipenjara selama sembilan tahun sebelum akhirnya dibebaskan pada 1966.

Dari dunia diplomasi, ada KH. Zainul Arifin, putra keturunan raja Barus yang besar di Kotanopan. Ia dikenal sebagai panglima pasukan Hizbullah dan memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Bangunan Bersejarah yang Terlupakan

Kotanopan memiliki banyak bangunan bersejarah yang kini semakin terlupakan. Salah satunya adalah Pasanggrahan Kotanopan, yang pada 16 Juni 1945 menjadi tempat Presiden Soekarno menggelar rapat akbar untuk menyosialisasikan kemerdekaan.

Ada juga SD 01 Kotanopan, yang dulunya adalah HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah dasar bagi anak-anak pribumi di masa kolonial.

Sayangnya, banyak bangunan bersejarah ini tak lagi terawat. Bahkan, beberapa di antaranya musnah dilalap si jago merah dalam musibah kebakaran, seperti yang terjadi pada 29 Maret 2022, di mana api melalap sembilan rumah bersejarah di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Namun, meski jejak fisik mulai memudar, Kotanopan tetap dikenang sebagai Kota Pejuang dan Kota Pendidikan. Status ini secara resmi disahkan oleh Bupati Mandailing Natal, Drs. Dahlan Hasan Nasution, (ketika itu, pada 25 Agustus 2017) dalam sebuah acara di Pasanggrahan Kotanopan.

“Kalau bukan kita yang menjaga sejarah, siapa lagi?”Begitu kiranya pesan yang harus kita ingat.

Sebuah Identitas dan Warisan, Apakah Hanya Tinggal Sejarah ?

Kita boleh berbangga dengan Kotanopan dan segala kejayaannya di masa lalu. Namun, tantangan ke depan tetap ada: apakah sejarah ini hanya akan menjadi cerita di warung kopi, atau bisa diwariskan secara nyata kepada generasi berikutnya?

Bagi sebahagian orang, barang kali Kotanopan hanya satu nama bagi daerah dimana vespa menjadi sebuah becak ikonik yang masih mengaspal hingga ke jalan-jalan desa dan lubuk larangan masih menjadi tradisi dalam setiap idul fitri. Namun Bagi sebahagian yang lain, Kotanopan adalah tanah leluhur, tanah pusaka, tempat dimana ilmu serta agama tertanam dan semangat juang berkembang disaat yang bersamaan sebagai modal menggapai kesuksesan.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini hanya akan menjadi cerita sejarah saja.? And Then What to be What the Next.? (Rahmat Kurnia Lubis)

Penulis : Rahmat Kurnia Lubis

Editor : Erka

Berita Terkait

Kejati Jatim Geledah Kantor ESDM, Selidiki Dugaan Pelanggaran Perizinan
PLN UID Jakarta Raya Gelar Bazar Sembako Murah “Terang Berkah Ramadan”
Polsek Serpong Gelar Jum’at Peduli, Santuni Anak Yatim dari Yayasan Permata Al-Ihsan
Polsek Serpong Edukasi Tertib Lalu Lintas Sejak Dini di TK Santa Ursula BSD
Bantuan Pascatragedi Kalibata Dinilai Belum Pulihkan UMKM Terdampak
Dari Luka Bencana Menuju Harapan Baru: BNPB Mulai Bangun Huntara untuk Warga Tapanuli Utara
Astra Dorong Pemberdayaan Ekonomi Desa Lewat Penguatan Petani Kopi Garut
DPP NasDem Rampungkan SK Pengurus Kalsel, Saidi Mansyur Resmi Pimpin Banjar

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 20:12 WIB

Kejati Jatim Geledah Kantor ESDM, Selidiki Dugaan Pelanggaran Perizinan

Jumat, 6 Maret 2026 - 18:30 WIB

PLN UID Jakarta Raya Gelar Bazar Sembako Murah “Terang Berkah Ramadan”

Rabu, 25 Februari 2026 - 07:53 WIB

Polsek Serpong Gelar Jum’at Peduli, Santuni Anak Yatim dari Yayasan Permata Al-Ihsan

Rabu, 25 Februari 2026 - 07:30 WIB

Polsek Serpong Edukasi Tertib Lalu Lintas Sejak Dini di TK Santa Ursula BSD

Senin, 12 Januari 2026 - 10:33 WIB

Bantuan Pascatragedi Kalibata Dinilai Belum Pulihkan UMKM Terdampak

Berita Terbaru