JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diminta dilakukan secara terukur dengan memusatkan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki ancaman kebakaran tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengatakan strategi tersebut penting agar kekuatan di lapangan tidak terbuang percuma.
“Gunakan cara berpikir kita seperti di medan pertempuran. Kita bertempur dengan api sekarang. Jadi jangan sampai pasukan kita sudah lelah, namun hasilnya tidak sesuai dengan tenaga yang kita keluarkan,” ujar Djamari saat meninjau penanganan karhutla di Sumatera Selatan, Jumat (18/9/2026).
Djamari juga meminta kepolisian segera memproses 50 tersangka kasus karhutla yang telah ditetapkan.
“Yang 50 tersangka segera diproses. Jangan berlama-lama. Segera,” tegasnya.
Ia menekankan pencegahan harus dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya ketika kebakaran terjadi. Menurutnya, anggaran pencegahan perlu disiapkan agar penanganan karhutla lebih efektif.
“Upaya pencegahan sangat penting dibandingkan dengan upaya penanggulangan,” katanya.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut penanganan karhutla di Sumsel menunjukkan perkembangan positif dengan tren penurunan titik panas.
“Manajemen kita, mengalokasikan orang dan pasukan dengan lebih tepat, sehingga kita padamkan yang memang sudah terbakar sekaligus mengantisipasi agar tidak terbakar,” ujar Raja Juli.
Penanganan karhutla melibatkan pemerintah pusat dan daerah, aparat, petugas lapangan, dunia usaha, serta masyarakat.
Penulis : guntar
Editor : ami






