Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, AirNav Perketat Pemantauan

- Penulis

Rabu, 2 September 2026 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan mulai berdampak signifikan terhadap operasional penerbangan.

Kondisi jarak pandang yang berubah dinamis membuat AirNav Indonesia memperketat pemantauan ruang udara untuk memastikan keselamatan penerbangan.

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan, pemantauan dilakukan secara berkelanjutan terhadap jarak pandang (visibility), kondisi cuaca, dan berbagai informasi meteorologi yang berpotensi memengaruhi operasional penerbangan.

“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. Dalam menghadapi kondisi kabut asap seperti saat ini, AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya,” ujar Avirianto, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, seluruh informasi hasil pemantauan kemudian dikoordinasikan dengan para pemangku kepentingan terkait. Langkah tersebut dilakukan agar pilot dan maskapai memperoleh informasi yang cepat dan akurat sebagai bahan dalam mengambil keputusan operasional.

Berdasarkan pemantauan AirNav Indonesia hingga pukul 11.57 WIB pada Rabu (2/9/2026), dampak kabut asap paling signifikan tercatat di Pontianak, Kalimantan Barat.

Jarak pandang di wilayah tersebut turun drastis hingga sekitar 600 meter. Kondisi itu menyebabkan seluruh penerbangan mengalami keterlambatan.

Bahkan, satu penerbangan dengan rute Jakarta-Pontianak terpaksa melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara asal.

Sementara itu, kondisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, masih relatif normal. Jarak pandang di wilayah tersebut berada di kisaran 3.500 meter sehingga operasional penerbangan masih dapat berlangsung normal.

Dampak kabut asap juga sempat terjadi di wilayah Kalimantan Utara pada Selasa (1/9/2026). Di Bandara Juwata, Tarakan, jarak pandang sempat turun ke rentang 1.000 hingga 5.000 meter.

Akibat kondisi tersebut, satu penerbangan terpaksa dialihkan (divert) ke bandara terdekat. Sementara tiga penerbangan lainnya sempat mengalami keterlambatan.

Penurunan jarak pandang juga terjadi di sejumlah bandara perintis di Kalimantan pada hari yang sama. Di Malinau, jarak pandang sempat berada di angka 2.000 meter sehingga satu penerbangan perintis dialihkan.

Kondisi lebih terbatas terjadi di Bandara Long Apung, dengan jarak pandang hanya sekitar 150–300 meter. Sedangkan di Bandara Tanjung Harapan, jarak pandang berada pada kisaran 400–1.000 meter.

Meski demikian, Avirianto menyebut kondisi di Kalimantan Utara mulai membaik pada Rabu (2/9/2026). Jarak pandang di wilayah tersebut meningkat hingga berada di kisaran 3.000–5.000 meter.

“Namun hari ini (2/9), kondisi di Kalimantan Utara terpantau mulai membaik, dengan jarak pandang yang meningkat hingga di kisaran 3.000–5.000 meter,” katanya.

Selain kabut asap karhutla, AirNav Indonesia juga memantau kondisi ruang udara akibat aktivitas erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Avirianto mengatakan, operasional penerbangan di Bandara Kualanamu pada Rabu (2/9/2026) kembali berjalan normal. Berdasarkan hasil pemantauan, tidak terdapat abu vulkanik yang menutupi jalur penerbangan.

“Pemantauan dilakukan oleh AirNav Indonesia secara menyeluruh untuk memastikan bahwa seluruh ruang udara aman untuk dilintasi,” jelasnya.

Dia menegaskan, apabila ditemukan potensi gangguan terhadap keselamatan penerbangan, AirNav Indonesia akan segera menyampaikan informasi kepada pilot dan maskapai sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Jika ada potensi gangguan apa pun, sesuai prosedur, kami akan secepatnya merilis informasi tersebut kepada pilot dan maskapai penerbangan,” ujarnya.

Menurut Avirianto, penyampaian informasi secara cepat dan akurat menjadi bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan operasional penerbangan, terutama ketika kondisi ruang udara mengalami perubahan.

“Langkah ini untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional. Hal ini karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami,” pungkasnya.(***)

 

Berita Terkait

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi
Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik
Prakiraan Cuaca Jakarta Senin 2 November 2026, Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah
Cuaca Jakarta Minggu 1 November: Hujan Ringan Mengintai, Cek Wilayah yang Berpotensi Diguyur
Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi
Wisata Tak Lagi Sekadar Foto, Kemenpar Garap Paket Healing dan Kuliner di Yogyakarta
Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara
Cuaca Jakarta Hari Ini 31 Oktober 2026: Jakarta Selatan dan Timur Berpotensi Diguyur Hujan

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:15 WIB

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi

Senin, 2 November 2026 - 09:24 WIB

Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 06:30 WIB

Prakiraan Cuaca Jakarta Senin 2 November 2026, Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Minggu, 1 November 2026 - 10:31 WIB

Cuaca Jakarta Minggu 1 November: Hujan Ringan Mengintai, Cek Wilayah yang Berpotensi Diguyur

Minggu, 1 November 2026 - 10:15 WIB

Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi

Berita Terbaru