Instruksi Megawati Menolak Retret Kepala Daerah, IPO: Mengancam Wibawa Pemerintah

- Penulis

Jumat, 21 Februari 2025 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai senam pagi bersama jajaran Kabinet Merah Putih saat retreat hari terakhir Minggu (27/10/2024) di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Foto: IG Resmi Presiden Prabowo..(dok.panrb)

Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai senam pagi bersama jajaran Kabinet Merah Putih saat retreat hari terakhir Minggu (27/10/2024) di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Foto: IG Resmi Presiden Prabowo..(dok.panrb)

JAKARTA – Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai instruksi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada kepala daerah dari partainya untuk menunda keikutsertaan dalam retret kepala daerah di Magelang sebagai langkah yang mengkhawatirkan.

Menurut Dedi, jika instruksi ini dipatuhi dan tidak ada konsekuensi hukum bagi kepala daerah yang menolak, maka wibawa pemerintah, khususnya Prabowo Subianto sebagai penggagas retret, akan dipertanyakan.

“Selain membuang anggaran, program ini juga faktanya tidak mengikat kepala daerah yang berada di bawah Kemendagri,” ujarnya.

Dedi menilai sikap PDIP ini sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap pemerintah.

Jika pola ini berlanjut, bukan tidak mungkin instruksi serupa akan merambah ke DPR, di mana PDIP memiliki dominasi yang cukup kuat.

“Kalau itu terjadi, Prabowo bisa kehilangan kepercayaan dan legitimasi dari PDIP, yang pada akhirnya berisiko menjatuhkan pemerintah lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, Dedi mencermati bahwa maraknya gerakan massa belakangan ini menandakan krisis kepercayaan terhadap pemerintah.

Ia tak menutup kemungkinan PDIP akan ikut menggerakkan massa untuk mendorong perubahan. “Jika itu terjadi, posisi Prabowo benar-benar bisa tersudut,” katanya.

Sebagai respons, Dedi menyarankan agar pemerintah tidak meremehkan langkah PDIP dan lebih peka terhadap situasi.

“Pemerintah harus mengurangi tekanan terhadap publik, mengevaluasi kebijakan, dan tidak semata-mata menjalankan program populis. Kepentingan bangsa harus didahulukan dibanding janji politik,” pungkasnya. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

MUI Desak Tindakan Tegas Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI Korban Harus Dilindungi Pelaku Dibina
Ratusan Ribu Buruh Siap Kepung DPR Saat May Day 2026, Isu PHK hingga Janji Pemerintah Jadi Sorotan
Sistem Tol Nirsentuh MLFF Belum Berlaku, Ini Penjelasan Terbaru BPJT
Yandri Susanto Dorong Pemuda NTB Magang ke Jepang: Sukses di Luar Negeri, Wajib Pulang Bangun Indonesia
Musda KNPI Sultra Digelar Mei, Fokus Perkuat Kepemimpinan Daerah
Irman Gusman: Pemimpin Besar Lahir dari Krisis, Bukan Zona Nyaman
Finquest Jadi Terobosan Baru, Pembiayaan Karantina Tak Lagi Bergantung APBN
Desak Tangkap Saiful Mujani dan Islah Bahrawi, Aktivis Pro 08 Kepung Mabes Polri

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 13:39 WIB

MUI Desak Tindakan Tegas Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI Korban Harus Dilindungi Pelaku Dibina

Jumat, 17 April 2026 - 20:28 WIB

Ratusan Ribu Buruh Siap Kepung DPR Saat May Day 2026, Isu PHK hingga Janji Pemerintah Jadi Sorotan

Jumat, 17 April 2026 - 06:50 WIB

Sistem Tol Nirsentuh MLFF Belum Berlaku, Ini Penjelasan Terbaru BPJT

Kamis, 16 April 2026 - 20:25 WIB

Yandri Susanto Dorong Pemuda NTB Magang ke Jepang: Sukses di Luar Negeri, Wajib Pulang Bangun Indonesia

Rabu, 15 April 2026 - 18:40 WIB

Musda KNPI Sultra Digelar Mei, Fokus Perkuat Kepemimpinan Daerah

Berita Terbaru