JOMBANG – Ramadan tahun ini kembali Allah pertemukan kita dengan bulan yang selalu dinanti—bulan umat, bulan pembinaan jiwa, dan bulan penguat ukhuwah. Di Pondok Pesantren Khomsani Nur Klanting, Jombang, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembaruan niat dan peningkatan kualitas ibadah bagi seluruh santri.
Ramadan diawali, Kamis (19/2/2026), dengan suasana persiapan yang penuh semangat. Para santri bersama-sama membersihkan gubug, kamar mandi, dapur, hingga ruang kelas. Kebersihan lahir ini menjadi simbol kesiapan batin, karena ruang yang bersih membantu hati lebih tenang dan khusyuk dalam beribadah.
Sepanjang hari, aktivitas ilmiah dan ruhani berjalan seiring. Pada siang hari, santri mengikuti kelas kajian Kitab Salaf. Sore dan malam diisi dengan murojaah Al-Qur’an, dilanjutkan tadarus bersama yang menjadi denyut utama malam-malam Ramadan.
Ba’da Duhur, pengajian Kitab Fathul Qorib disampaikan langsung oleh pengasuh pondok, memperkaya pemahaman fiqih santri. Sementara itu, ba’da Tarawih, para santri menulis Sholawat Nuruz Zaman—sebuah amalan istimewa yang memperindah suasana malam dengan nuansa cinta kepada Rasulullah.
Semangat Ramadan juga terasa dari para donatur yang menunjukkan kepedulian luar biasa. Dalam waktu singkat, jadwal donasi buka bersama untuk 150 santri setiap hari telah terpenuhi. Dukungan datang tidak hanya dari Lumajang, tetapi juga dari Jakarta dan Surabaya. Ada yang berdonasi satu hari, dua hari, bahkan tiga hari. Menu buka puasa yang beragam menghadirkan kebahagiaan sederhana setiap hari, sekaligus menjadi bukti bahwa Ramadan mampu menyatukan hati meski terpisah jarak.
Salah satu keistimewaan Ramadan di pondok ini adalah pelaksanaan Tarawih satu juz setiap malam. Tarawih dilaksanakan di Asrama Tahfidz Putra dan di ndalem untuk santri putri. Para imam merupakan santri penghafal Al-Qur’an, menjadikan ibadah ini sekaligus sebagai latihan dan penguatan hafalan mereka.
Suasana syahdu menyelimuti setiap malam. Lokasi pesantren yang berada di tengah persawahan menghadirkan ketenangan alami—gemericik air, hembusan angin, dan suara alam yang mengiringi lantunan ayat suci. Meski satu juz setiap malam, Tarawih terasa ringan karena terdapat jeda istirahat di pertengahan rakaat, dimanfaatkan untuk minum atau sekadar merilekskan tubuh.
Kebersamaan juga terasa saat sahur. Setiap malam, para santri menyiapkan hidangan sahur bersama di dapur sederhana. Aktivitas ini tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga mempererat persaudaraan dan melatih kemandirian.
Ramadan di Pondok Pesantren Khomsani Nur Klanting bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia menjadi ruang pembinaan jiwa, penguatan hafalan, pendalaman ilmu, dan pengokohan persaudaraan. Semoga Ramadan tahun ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan iman yang lebih kokoh.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis : atz
Editor : guntar






