Harga Ayam Hidup Terpuruk, Peternak Broiler Minta Pemerintah Perkuat Penyerapan dan Optimalkan Permentan 10/2024

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sugeng Wahyudi (foto. ist)

Sugeng Wahyudi (foto. ist)

JAKARTA – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan konsumsi protein hewani melalui berbagai program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), peternak ayam pedaging masih menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga ayam hidup di tingkat kandang.

Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi menilai, persoalan yang dialami peternak ayam petelur juga dirasakan oleh peternak ayam pedaging (broiler), bahkan dalam kondisi yang tidak kalah berat.

Sugeng Wahyudi, mengatakan terdapat informasi yang belum tersampaikan secara utuh ketika jajaran Kementerian Pertanian membahas solusi bagi peternak petelur. Menurutnya, peternak broiler juga sedang menghadapi persoalan serius yang mengancam keberlangsungan usaha mereka.

“Ada persoalan yang sama yang juga dirasakan oleh produsen protein rakyat, yakni peternak ayam pedaging. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dampaknya sangat besar terhadap keberlanjutan usaha peternak di lapangan,” kata Sugeng saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Sugeng menjelaskan, hingga saat ini harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang masih berada jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP). Saat ini BPP ayam broiler diperkirakan mencapai sekitar Rp20.500 per kilogram, sedangkan harga jual hanya berkisar antara Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram.

Selisih harga tersebut membuat peternak harus menanggung kerugian cukup besar pada setiap kilogram ayam yang dijual.

“Harga ayam hidup saat ini masih jauh di bawah biaya pokok produksi. Dengan BPP sekitar Rp20.500 per kilogram dan harga jual hanya Rp16.000 sampai Rp18.000 per kilogram, tentu beban kerugian yang ditanggung peternak sangat besar dan berdampak langsung pada keberlangsungan usaha budidaya ayam broiler,” ujarnya.

Menurut Sugeng, rendahnya permintaan pasar atau tingginya pasokan ayam masih menjadi persoalan klasik yang terus berulang setiap tahun. Kondisi tersebut, kata dia, seharusnya dapat diantisipasi lebih baik di tengah berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

“Rendahnya demand atau tingginya supply ayam selalu menjadi fenomena yang gagal diantisipasi. Padahal saat ini pemerintah sedang serius meningkatkan kebutuhan protein masyarakat melalui program MBG. Seharusnya momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat penyerapan produksi peternak,” katanya.

Ia menambahkan, solusi jangka menengah yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan pelaksanaan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2024. Regulasi tersebut mengatur tata niaga unggas, termasuk mekanisme pemasaran ayam melalui rumah potong ayam (RPA).

Menurut Sugeng, penerapan aturan tersebut secara konsisten dapat membantu menciptakan keseimbangan pasar dan memberikan ruang yang lebih baik bagi peternak rakyat.

“Para pelaku usaha dan pemerintah harus mengoptimalkan peran Permentan 10/2024. Di dalamnya diatur mekanisme kepemilikan ayam yang harus dipasarkan melalui rumah potong ayam. Setidaknya hal itu dapat membantu peternak kecil memasarkan produknya sesuai kemampuan mereka, yakni dalam bentuk ayam hidup,” tuturnya.

Sementara itu, perusahaan atau pelaku usaha yang memiliki fasilitas dan dukungan infrastruktur yang memadai diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan rumah potong ayam sehingga produk yang dihasilkan tidak seluruhnya dilepas ke pasar dalam bentuk ayam hidup.

“Bagi pelaku usaha yang memiliki daya dukung memadai, peran rumah potong ayam perlu dioptimalkan. Ayam yang diproduksi bisa diproses terlebih dahulu sehingga tekanan terhadap harga ayam hidup di pasar dapat dikurangi,” kata Sugeng.

Peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, memperluas penyerapan produksi unggas dalam program pemerintah, serta memastikan implementasi regulasi berjalan efektif agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan di tengah tekanan harga yang berkepanjangan.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini
Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu
Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027
1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton
Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini
Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru
Kuota Tuna Sirip Biru Indonesia Naik 25 Persen, Berpeluang Tembus 3.170 Ton per Tahun
Laba BULOG Cetak Rekor Rp2,4 Triliun, Akhir Tahun Diprediksi Tembus Rp3 Triliun

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:03 WIB

Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:42 WIB

1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini

Berita Terbaru