JAKARTA — Kuota haji Indonesia untuk tahun 2025 dipastikan telah terisi penuh. Bahkan, jumlah jemaah yang telah melunasi biaya perjalanan ibadah haji melebihi batas kuota yang ditetapkan.
“Menurut laporan yang kami terima, seluruh kuota haji sudah terisi. Bahkan, yang sudah melakukan pelunasan biaya haji mencapai 215 ribu orang, melebihi kuota yang tersedia,” ujar Marwan, Sabtu (19/4/2025).
Total kuota haji Indonesia tahun 2025 sebanyak 221.000 jemaah, terdiri atas 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Namun, dari kuota haji reguler, jumlah jemaah yang sudah melunasi justru melampaui batas, yakni mencapai 215.000 orang.
“Bagi jemaah yang sudah melunasi namun belum bisa berangkat tahun ini, mereka otomatis menjadi jemaah cadangan dan akan diprioritaskan untuk diberangkatkan pada musim haji berikutnya,” jelasnya.
Marwan menegaskan bahwa seluruh kuota, baik reguler maupun khusus, sudah terserap sepenuhnya. Ia menekankan pentingnya menjaga keadilan dalam proses keberangkatan, agar tidak ada jemaah yang melangkahi hak orang lain atau mendapat tempat karena jalur tak resmi.
Komisi VIII, lanjutnya, juga tengah memastikan seluruh persiapan ibadah haji, baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi, berjalan maksimal. Persiapan di embarkasi Indonesia harus rampung, mengingat waktu keberangkatan tinggal 15 hari lagi.
“Semua fasilitas dan infrastruktur di tanah air harus siap. Tak hanya soal keberangkatan, tapi juga kenyamanan dan keselamatan jemaah selama di Tanah Suci,” tambahnya.
Salah satu perhatian utama Komisi VIII adalah kondisi di Mina. Dari total 203 ribu jemaah reguler, seluruhnya akan ditempatkan di area yang sangat terbatas. Berdasarkan perhitungan, tiap jemaah hanya memiliki ruang sekitar 0,8 meter per orang, yang membuat aktivitas sederhana seperti duduk pun menjadi sulit.
“Karena itu kami mendorong skema tanazul, yakni jemaah tidak menginap di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel masing-masing. Ini dilakukan demi kenyamanan mereka,” kata Dasopang.
Skema ini, menurutnya, tetap berada dalam tanggung jawab syarikah—perusahaan penyedia layanan bagi jemaah haji Indonesia. Total ada 8 syarikah yang ditugaskan untuk melayani pelaksanaan tanazul dan murur (skema kedua, di mana jemaah tidak turun dari bus saat di Muzdalifah, melainkan langsung dibawa ke Mina dan melanjutkan prosesi lempar jumrah sebelum ke hotel).
“Dari Jamarot ke hotel jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer. Di hotel, jemaah akan lebih leluasa dan nyaman. Konsumsi pun tetap ditanggung syarikah, bukan pribadi jemaah,” jelasnya lagi.
Marwan menyebut, tahun ini sebanyak 37.600 jemaah direncanakan masuk dalam skema tanazul. Jumlah ini, kata dia, bisa bertambah pada musim-musim haji mendatang jika implementasinya terbukti efektif.
“Kalau jemaah bisa jalan dari tenda ke Jamarot dan kembali lagi ke tenda, apalagi kalau hanya dari Jamarot ke hotel—itu malah lebih dekat. Kami optimistis ini bisa berjalan baik. Pemerintah Saudi juga menyambut positif skema ini sebagai bagian dari solusi penataan Mina,” pungkasnya. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













